Sabtu, 15 Oktober 2011

KEANEKARAGAMAN HAYATI

KEANEKARAGAMAN HAYATI

A. Keanekaragaman Jenis
Jika pada suatu hari kamu menemukan seekor hewan yang asing bagimu barangkali akn timbul pertanyaan: “Hewan apa itu?”. Kamu tidak bertanya “Pohon apa itu?” atau “orang darimana itu?”. Kalau hal itu benar, kamu sudah memiliki pengetahuan tentang adanya keanekaragaman jenis atau klasifikasi makhluk hidup. Kamu dapat membedakan antara hewan, tumbuhan dan manusia. Bagaimana hal itu dapat kamu lakukan? Tentu ada berbagai cara dan alasan tetapi umumnya seseorang mengenal adanya keanekaragaman makhluk hidup berdasar ciri-ciri yang dapat diamati, dan segera yang dapat dilihat. Tidak hanya cirinya yang diamati, mungkin juga tingkah lakunya, penampilannya, makanannya, atau cara berkembang biaknya, habitatnya, interaksinya dengan makhluk lain, dalam hal ini kita melihat secara keseluruhan dari hewan tersebut.
Hal itu juga dapat dilakukan terhadap dunia tumbuhan. Apa yang diamati tentu berbeda dengan pengamatan terhadap hewan. Mungkin yang diamati tempat tumbuhnya, batangnya, daunnya, bunganya, buahnya, atau rasa buahnya, serangga yang mengunjunginya, burug yang bersarang didalamnya dan sebagainya.
Makin maju pengetahuan dan teknologi, makin maju pula cara para ilmuwan dalam mengelompokkan makhluk hidup karena makin teliti dan rinci perbedaan-perbedaan yang dapat diungkap. Para ilmuwan tidak hanya mengelompokkan makhluk hidup berdasar perbedaan dan persamaan faal dan anatominya. Misalnya berdasar reaksi serum terhadap antibodi tertentu (berdasar serologi), berdasar butir-butir amilum kandungannya, berdasar kandungan vitaminnya, berdasar dapat atau tidaknya pembuahan terjadi antar dua jenis yang mirip dan lain sebagainya. Begitu banyak keanekaragaman makhluk hidup yang semua ini menunjukkan suatu keseluruhan penampilan yang didasari sifat kebakaanya serta interaksinya dengan lingkungan. Karena begitu besar dan banyaknya ragam makhluk ini, para ilmuwan mencari cara memudahkan mengenali dan mempelajarinya.
Ilmuwan mengklasifikasikan makhluk hidup berdasarkan banyaknya persamaan dan perbedaan baik morfologi, fisiologi maupun anatominya. Makin banyak persamaan, dikatakan makin dekat tali kekerabatannya. Makin sedikit persamaanya, makin jauh kekerabatannya. Persamaan dan perbedaan itu mungkin terjadi pada tingkat jenis, marga atau suku dan banyak sedikitnya dipengaruhi oleh lingkungannya, habitatnya atau perlakuan manusia terhadap jenis-jenis.
Dalam memandang makhluk hidup, kita tidak berhenti sampai pada menyatakan apakah ia hewan atau tumbuhan. Kita cenderung ingin memberikan nama makhluk itu berdasar ciri-ciri yang dimiliki. Tidak puas kita rasanya hanya menyebut itu hewan menyusui atau hewan melata, tetapi merasa perlu hingga dapat mengatakan sesuatu itu secara terperinci. Terhadap tumbuhan juga demikian, tidak puas kalau hanya sampai menyebut itu rumput, itu pohon berbuah. Kita ingin menunjuk secara tepat bahwa yang kita maksud adalah itu rumput teki, itu pohon rambutan. Bahkan kadang-kadang kita perlu menyebut hingga jelas bahwa kelapa yang kita maksud adalah kelapa gading, kelapa hibrida atau kelapa kopyor. Dengan demikian, sampailah kita pada masalah tidak hanya mengelompokkan (klasifikasi).
1. Sejarah Klasifikasi
Kapankah manusia mulai melibatkan diri dalam kegiatan yang temasuk ruang lingkup taksonomi? Dapat dikatakan bahwa kegiatan dalam bidang taksonomi tentulah telah dimulai bersama-sama dengan lahirnya manusia di bumi ini. Sejak zaman prasejarah orang telah mengenal tumbuhan penghasil pangan yang penting seperti kita kenal sampai sekarang.
Pada masa selanjutnya, manusia mulai mengelompokkan makhluk hidup atas dunia hewan (Kingdom Animalia) dan dunia tumbuhan (Kingdom Plantae). Dunia hewan dibagi lagi atas: Hewan ysng hidup di air dan hewan yang hidup di darat. Serta dunia tumbuhan terbagi lagi atas: pohon, semak-semak dan herba.
Aristoteles (Filosof Yunani, 284-322), mengelompokkan semua makhluk hidup yang dikenal lebih kurang seribu macam. Beliau dikenal sebagai “bapak zooogi” (zoo=hewan, logos+ilmu), karena beliaulah yang merintis pengklasifikasian hewan dengan membedakan ciri-cirinya.
Theophratus (Filsuf Yunani, murid Aristoteles 327-237 SM) memulai karyanya yang berjudul “Historia Plantarum”, telah memperkenalkan sekitar 480 jenis tumbuhan. Beliau mengklasifikasikan tumbuhan didasarkan atas bentuk yang dapat dilihat dengan mata biasa.
John Ray, (Inggris, 1627-1705), merupakan tokoh pertama yang memiliki konsep modern tentang spesies, dan mencoba melanjutkan klasifikasinya ke arah grup-grup yang lebih kecil.
Carolus Linnaeus, (1707-1778), adalah perintis pemberian nama ilmiah untuk setiap jenis makhluk hidup, baik hewan maupun tumbuhan. Cara pemberian nama ilmiah ini lebih dikenal dengan nama Nomenklatur binomial atau sistem binomial, yaitu penamaan dengan menggunakan dua kata dari bahasa latin atau dilatinkan. Kata yang depan merupakan nama marga (genus) yang ditulis dengan huruf kapital, sedangkan kata yang di belakang merupakan keterangan jenis (spesies) yang ditulis dengan huruf kecil. Dasar Linnaeus mengadakan klasifikasi adalah kesamaan struktur. Linnaeus mendaftarkan dan mendiskripsikan tumbuhan dalam “spesies Plantarum” (1753), sedangkan hewan didiskripsikan dalam sistem natural (1758). Spesies didefinisikan sebagai populasi dari individu yang sama, seperti dalam struktur dan fungsi karakteristik, tolong menoong dalam pembawaan keturunan dan mempunyai moyang sama.
2. Dasar-Dasar Klasifikasi
Kegiatan klasifikasi tidak lain adalah pembentukan kelompok-kelompok dengan cara mencari keseragaman dalam keanekaragaman. Jadi berbagai jenis makhluk hidup akan dikelompokkan dalam satu kelompok jika memiliki kesamaan dan atau sifat. Kelompok yang warganya hanya menunjukkan sedikit persamaan ciri dan sifat, jumlah warganya lebih besar daripada kelompok yang warganya mempunyai lebih banyak persamaan ciri dan sifat antara satu dengan lainnya. Contoh: makhluk yang berkaki empat (satu ciri) akan lebih besar warganya dibanding dengan makhluk yang berciri berkaki empat dan pemakan rumput (dua ciri). Akan lebih besar lagi perbedaanya bila dibandingkan dengan makhluk yang berkaki empat, pemakan rumput dan memamah biak (tiga ciri). Kalau dirumuskan: jumlah warga takson berbanding terbalik dengan banyaknya persamaan ciri. Satu ciri > dua ciri > tiga ciri... > n ciri.
Dalam tatanama makhluk hidup talah disepakati oleh ilmuwan penggunaan sederet takson yang disusun dari yang beranggota besar (sedikit persamaan ciri) ke yang beranggotakan kecil (banyak persamaan ciri). Untuk setiap kategori atau tingkat takson diberi nama tertentu. Yang umum digunakan di Indonesia berturut-turut adalah:
Dunia dalam buku lain mungkin disebut : Regnum
Divisi/Filum dalam buku lain mungkin disebut : Divisio/filum
Kelas dalam buku lain mungkin disebut : Classis
Bangsa dalam buku lain mungkin disebut : Ordo
Suku dalam buku lain mungkin disebut : Familia
Marga dalam buku lain mungkin disebut : Genus
Jenis/Spesies dalam buku lain mungkin disebut : Species
Urut-urutan tersebut sudah sesuai dengan persetujuan internasional, dan Indonesia mengikuti pemakaiannya. Yang perlu bagimu untuk memahaminya adalah batasan konsep tiap tingkat takson, apa yang dimaksud dengan jenis, marga, suku, dan seterusnya. Untuk tingkat SMU, cukup untuk keperluan praktek sehari-hari kita bahas 4 takson terakhir saja.
Jenis atau spesies merupakan satu takson yang memiliki sifat-sifat yang sama, baik morfologi, anatomi maupun sosiologi. Makhluk hidup sejenis memiliki jumlah kromosom yang sama, apakah itu yang berkulit putih maupun berwarna; manusia, hewan atau tumbuhan sejenis biasanya hidup dalam habitat atau areal distribusi sama. Jika antara makhluk-makhluk sejenis itu menampakkan perbedaan ciri, perbedaan penampilannya terletak pada tatanan gen dalam kromosom.
Marga atau genus merupakan takson yang mencakup sejumlah jenis yang menunjukkan persamaan dalam struktur alat reproduksinya. Suku atau familia adalah takson yang meliputi sejumlah marga dengan jenis-jenis yang dianggap berasal nenek moyang yang sama.
Berdasarkan uraian di atas, kamu dengan mudah dapat memahami bahwa definisi ketiga takson tersebut jelas dan masih ada peluang untuk memberi interpretasi lain. Memang demikianlah halnya, karena penafsiran seorang ilmuwan dapat berbeda dengan penafsiran ilmuwan lainnya. Karena itu, kalian tidak usah bingung bila menjumpai sistem klasifikasi yang berbeda dengan sistem klasifikasi yang dikemukakan dalam buku ini. Selain daripada itu, sepanjang pertumbuhan dan perkembangan ilmu dari masa ke masa selalu dipengaruhi oleh kemajuan ilmu dan teknologi sehingga sistem klasifikasi dapat berubah-ubah. Disamping faktor subjektifitas, tingkat pengetahuan orang dan tujuan mengadakan klasifikasi, juga ikut mempengaruhi hasil klasifikasi. Sehingga hasil pengklasifikasian itu berbeda-beda.
Dunia atau Kingdom atau disebut juga Regnum merupakan kelompok terbesar organisme yang dikenal oleh ahli biologi. Berapa duniakah seharusnya makhluk hidup itu dikelompokkan? Dulu para ahli biologi sepakat menggolongkan makhluk hidup menjadi dua dunia saja yaitu dunia hewan dan dunia tumbuhan.
Ternyata cara ini menimbulkan masalah ketika harus mengelompokkan jamur, bakteri dan organisme bersel satu yang tidak cocok untuk dimasukkan ke salah satu kelompok tersebut. Para ilmuwan biologi sekarang cenderung menerima pengelompokan makhluk hidup menjadi 4 dunia, tentu tidak semua menyetujui cara ini, empat dunia makhluk hidup itu terdiri dari dunia Monera, Fungi, Plantae, dan Animalia.
a. Dunia Monera
Yang termasuk dunia monera adalah bakteri dan ganggang biru. Organisme ini terdiri atas satu sel, tetapi berbeda dari organisme satu sel lainnya karena inti selnya masih berbentuk prokariotik.
b. Dunia Fungi
Umumnya fungi terbentuk dari benang-benang hifa, bukan dari sel-sel tunggal. Inti-inti sel tersebar dalam sitoplasma dalam hifa ini. Yang termasuk dunia fungi adalah semua jamur Mycota dan Eumycota.
c. Dunia Plantae
Makhluk yang temasuk dunia tumbuhan terdiri atas banyak sel (multiseluler). Sel-selnya memiliki dinding sel yang terbuat dari selulosa. Banyak selnya yang mengandung kloroplas yang berisi klorofil terletak pada daun dan batang. Tumbuhan membuat makanannya dengan cara fotosintesis. Termasuk di dalamnya : Algae, Bryophyta, Pteridophyta, dan Spermatophyta.
d. Dunia Animalia.
Hewan termasuk organisme multiseluler, selnya tidak berdinding dan tidak berkloroplas. Umumnya hewan menelan dan mencerna makanannya di dalam alat pencernaan.
Tata nama
Telah banyak cara ditempuh untuk menggolongkan dan memberi nama makhluk hidup. Dalam prasejarah, manusia telah mengelompokkan tumbuhan penghasil bahan pangan dan yang bukan penghasil pangan. Mereka juga mengenal tumbuhan penghasil obat-obatan, hewan yang dianggap suci, dan sebagainya. Nama adalah sesuatu yang mutlak perlu untuk mengetahui apa yang dimaksud. Tak terbayang oleh kita bagaimana kita harus berkomunikasi tanpa menyebut suatu nama. Pengetahuan berdasar pengalaman memang telah banyak, tetapi belum ditata sehingga belum berfungsi sebagai alat komunikasi secara ilmiah. Nama-nama yang diberikan bersifat lokal akan kurang berarti dalam komunikasi ilmu yang bersifat internasional.
3. Sistem Klasifikasi
Sistem klasifikasi makhluk hidup yang dikenal sampai sekarang dapat dibedakan dalam 3 macam, yaitu sistem artifisial, sistem alam, dan sistem filogenetik.


a. Sistem Artifisial
Sistem artifisial sebagai dasar klasifikasi menggunakan sifat-sifat morfologi terutama alat reproduksi, berdasar habitat atau perawakan, berupa pohon, perdu, semak, gulma atau liana.
b. Sistem Alam
Sistem alam menghendaki terbentuknya takson-takson yang alami, dalam arti setiap unit atau takson yang terbentuk mencakup anggota-anggotanya yang sewajarnya bila mereka itu dikumpulkan menjadi suatu kelompok yang dikehendaki alam. Dasar yang digunakan adalah banyak sedikitnya persamaan, terutama persamaan sifat-sifat morfologi. Contoh mengelompokkan kuda, gajah, sapi, buaya dalam kelompok hewan berkakai empat. Padi, gandum, jewawut karena berbutir.
c. Sistem Filogenetik
Sistem filogenetik merupakan sisitenm klasifikasi yang baru muncul setelah lahirnya teori evolusi. Sisitem ini mencerminkan urutan perkembangn serta jauh-dekatnya kekerabatan antar takson, selain mencerminka persamaan dan perbedaan sifat morfologi dan anatominya. Sisitem ini menjelaskan mengapa organisme semuanya memiliki kesamaan tatanan molekul dan biokimia, tetapi berbeda-beda dalam bentuk dan fungsinya.
Evolusi tidak menciptakan organisme baru dari udara kosong, melainkan didahului oleh perubahan tatanan gen organisme yang telah ada, ini berarti adanya hubungan kesinambungan yang mendasari.
d. Tata nama Biner
Berbagai sistem taksonomi yang telah ada belum memebri kepuasan bagi para ilmuwan. Akhirnya para ilmuwan berusaha untuk “menerbitkan” cara-cara pemberian nama untuk terciptanya suatu sistem tatanama yang mantap, sederhana, mudah dipahami, dan dapat digunakan sebagai alat komunikasi ilmiah di seluruh dunia. Dari usaha tersebut lahirlah sistem tatanama yang terkenal dan disebut sistem dwitatanama atau binomial nomenklatur (tatanama biner). Berikut ini akan dibahas ketentuan-ketentuan untuk memeberi nama takson tingakt jenis, marga dan suku, tidak untuk dihafalkan tetapi sekedar dikenal.
1. Nama Jenis
a) Nama jenis baik untuk hewan maupun tumbuhan harus terdiri atas dua kata mufrad (tunggal) dan yang sudah dilatinkan. Misalnya badak jawa nama spesiesnya jadi Rhinoceros sondaicus. Karet nama spesiesnya Hevea brasikensis.
b) Kata yang di depan (1) merupakan nama marga, sedangkan kata yang kedua (2) menunjukkan jenisnya.
c) Nama marga dimulai dengan huruf besar, sedangkan nama jenis ditulis dengan huruf kecil walaupun nama tersebut diambil dari nama orang atau tempat/daerah. Contoh nama tumbuhan: Cinchona ledgeriana, nama hewan;Elephas indicus.
Yang merupakan nama jenis adalah seluruhnya (1+2) ; 1 adalah nama marga yang membawahi jenis itu, 2 adalah penunjuk jenis. Hanya huruf pertama C dan E pada contoh diatas ditulis dengan huruf besar sedang penunjuk jenis dengan huruf kecil, sekalipun ledgeriana berasal dari nama orang “Ledger” dan indicus berasal dari nama wilayah “India”.
2. Nama Marga
Nama marga tumbuhan maupun hewan terdiri atas satu kata berbentuk mufrad yang dapat diambil dari kata apa saja, dapat dari nama hewan, tumbuhan, zat kandungan, dan sebaginya. Huruf pertamanya ditulis dengan huruf besar. Contoh marga tumbuhan: Solanum (terung-terungan), marga hewan: Felis (kucing).
3. Nama Suku
Pemberian nama suku diambil dari nama marga makhluk yang bersangkutan ditambah akhiran acceae bila makhluk itu tumbuhan dan idae bila makhluk itu hewan. Contoh nama suku pada tumbuhan: suku Solanaceae dari Solanum + aceae (terung-terungan); contoh nama suku pada hewan: Felidae dari kata Felis + idae (suku kucing).
Penerapan sistem tata nama biner jenis tumbuhan dilakukan secara mantap. Jika nama jenis tumbuhan terdiri lebih dari dua kata, maka kata kedua dan berikutnya harus disatukan atau menggunakan tanda penghubung. Contoh nama jenis tumbuhan dari tiga kata: Hibiscus rosasinensis (kembang sepatu) harus ditulis Hibiscus rosasinensis atau Hibiscus rosa-sinensis.
Nama jenis hewan yang terdiri atas tiga kata seperti: Felis maniculata domestica (kucing jinak). Nama ini bukan dimaksudkan sebagai nama jenis, tetapi nama anak jenis(subspecies), jadi tidak menyalahi aturan. Pada tumbuhan kamu mungkin akan menemukan nama seperti: Hibiscus sabdarifa var alba (rosela varietas putih).
4. Tujuan dan Manfaat Klasifikasi Makhluk Hidup
Makhluk hidup yang ada di bumi ini sangat beraneka ragam, baik ukuran, bentuk, struktur tubuh maupun cara hidupnya. Untuk memudahkan kita dalam mempelajari keanekaragaman makhluk hidup tersebut, para ahl biologi kemudian membuat klasifikasi makhluk hidup berdasarkan persamaan dan perbedaan sifat yang dimiliki oleh makhluk-makhluk hidup tersebut.
Klasifikasi memiliki peran yang sangat penting bagi biologi karena terlalu banyak perbedaan jenis makhluk hidup untuk dipisah-pisahkan dan dibandingkan. Adapun tujuan dari klasifikasi makhluk hidup antar lain:
a. Mengelompokkan makhluk hidup berdasarkan persamaan ciri-ciri yang dimiliki
b. Mengetahuai ciri-ciri suatu jenis makhluk hidup untuk membedakannya dengan makhluk hidup dari jenis lain
c. Mengetahui hubungan kekerabatan antar makhluk hidup
d. Memberi nama makhluk hidup yang belum diketahui namanya atau belum memiliki nama
Selain memiliki tujuan, klasifikasi makhluk hidup juga memiliki manfaat bagi manusia, antara lain sebagai berikut:
a. Klasifikasi memudahkan kita dalam mempelajari makhluk hidup yang sangat beraneka ragam. Sebagai contoh, untuk mempelajari sistem peredaran darah pada mamalia, kita cukup mengamati jantung salah satu anggota mamalia, misalnya mencit atau marmot. Coba anda bayangkan betapa repotnya jika kita harus mengamati jantung seluruh anggota mamalia.
b. Klasifikasi membuat kita mengetahui hubungan kekerabatan antarjenis makhluk hidup. Makhluk-makhluk hidup yang hubungan kekerabatannya dekat memiliki banyak persamaan ciri-ciri, baik ciri morfologi maupun ciri fisiologinya.
c. Klasifikasi memudahkan komunikasi. Sistem klasifikasi makhluk hidup bersifat universal sehingga siapapun, di mana pun, dan kapanpun selalu menggunakan aturan yang sama. Dengan demikian, tidak ada kendala komunikasi bagi mereka yang berbeda bahasa.


5. Proses Klasifikasi
Para biologiwan yang mengklasifikasi dunia kehidupan hingga saat ini masih mengunakan buku Linnaeus yang berjudul Systema Naturae (Sistem Alam), diterbitkan pada tahun 1758, sebagai dasar untuk klasifikasi ilmiah.
Klasifikasi yang baik dan benar memerlukan tahap-tahap tertentu yang harus dilakukan. Ada tiga tahapan untuk mengklasifikasi makhluk hidup, yaitu pencandraan, pengelompokan, dan pemberian nama.
a. Pencandraan (Identifikasi)
Suatu jenis makhluk hidup yang baru ditemukan harus dicandra terlebih dahulu. Mencandra adalah mengidentifikasi atau mendeskripsi ciri-ciri suatu makhluk hidup yang akan diklasifikasi. Pencandraan harus dilakukan dengan cermat dan teliti mulai dari ciri-ciri yang mudah diamati, yaitu ciri-ciri morfologi, hingga cri-ciri anatomi dan fisiologinya. Bahkan jika perlu ciri-ciri biokimiawinya. Yang termasuk ciri-ciri morfologi, antara lain jumlah benang sari, jumlah mahkota dan kelopak, habitus, bentuk paruh, jumlah kaki, dan bentuk tubuh. Yang termasuk ciri anatomi dan fisiologi, misalnya sistem pencernaan, sistem peredaran darah, produksi susu, dan ada tidaknya tulang belakang. Adapun yang termasuk ciri-ciri biokimiawi, misalnya kandungan asam nukleat, kandungan hemoglobin, dan kandungan klorofil.
b. Pengelompokan
Setelah diketahui ciri-cirinya (telah teridentifikasi), suatu makhluk hidup dapat dikelompokkan dengan makhluk hidup lain yang memiliki ciri serupa. Makhluk-mkhluk hidup dengan ciri-ciri serupa dikelompokkan dalam unit-unit yang disebut takson (jamak = taksa). Takson merupakan kelompok atau unit yang terrbentuk sebagai hasil klasifikasi makhluk hidup. Menurut kesepakatan internasional ada tujuh tingkat takson yang disusun mulai dari tingkat tinggi hingga tingkat rendah. Makin rendah tingkat takson, makin sedikit anggota takson tersebut, tetapi persamaan ciri-ciri yang dimiliki anggotanya makin banyak. Demikian pula sebaliknya. Kita ambil contoh kerbau, sapi, belalang, capung, siput, merpati, ular, buaya, kucing, harimau, udang, dan kelinci saat kita bagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok A dan kelompk B.
• Kelompok A terdiri atas hewan-hewan bertulang belakang, antara lain sapi, kerbau, merpati, ular, buaya, kucing, harimau dan kelinci.
• Kelompok B terdiri atas hewan-hewan tidak bertulang belakang, antara lain belalang, capung, siput dan udang.
Kelompok A dapat kita bagi lagi menjadi :
• Kelompok A1 terdiri atas hewan hewan menyusui, yaitu kerbau, sapi, kucing, harimau dan kelinci.
• Kelompok A2 terdiri atas hewan-hewan melata, yaitu buaya dan ular.
Kelompok A1 dapat kita bagi lagi menjadi :
• Kelompok A11 terdiri atas hewan-hewan pemakan daging, yaitu harimau dan kucing
• Kelompok A12 teridri atas hewan-hewan pemakan tumbuhan, yaitu sapi, kerbau, dan kelinci.
Demikian seterusnya hingga diperoleh kelompok yang hanya terdiri atas satu jenis.
c. Pemberian nama Takson
Kelompok-kelompok makhluk hidup yang telah terbentuk pada tahap kedua (tahap pengelompokan) di atas harus diberi nama. Pemberian nama tersebut berfungsi, antara lain untuk memudahkan kita dalam mengenal ciri-ciri suatu kelompok makhluk hidup, untuk membedakan satu kelompok makhluk hidup dengan kelompok makhluk hidup lainnya, serta menunjukkan tingkatan takson. Contoh pemberian nama takson adalah sebagai berikut:
• Kelompok A di atas diberi nama vertebrata karena semua anggotanya memiliki tulang belakang (vertebrae).
• Kelompok A1 diberi nama mamalia karena semua anggotanya mempunyai kelenjar susu (mammae) untuk menyusui anaknya.
• Kelompok A11 diberi nama carnivora karena semua anggotanya adalah pemakan daging.
B. Tingkatan Takson dalam Klasifikasi
Dalam sistem klasifikasi makhluk hidup dikelompokkan menjadi suatu kelompok besar. Kelompok besar tersebut kemudian dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Selanjutnya kelompok kecil itu dibagi menjadi beberapa kelompok yang lebih kecil lagi sehingga terbentuk kelompok-kelompok kecil yang mempunyai anggota hanya satu jenis makhluk hidup. Tiap tingkatan kelompok dalam sistem klasifikasi inilah yang disebut takson. Taksa telah distandarisasi di seluruh dunia berdasarkan International Code of Botanical Nomenclature dan International Committee on Zoological Nomenclature. Urutan takson dari yang paling tinggi ke yang paling rendah adalah kingdom, filum/divisi, kelas, ordo, famili, genus, dan spesies. Makin tinggi tingkatan takson, makin umum persamaan ciri-ciri yang dimiliki oleh suatu makhluk hidup. Sebaliknya, makin rendah tingkatan takson, makin khusus persamaan ciri-ciri yang dimiliki oleh makhluk hidup tersebut.
1. Kingdom (Dunia atau Kerajaan)
Kingdom merupakan tingkatan takson tertinggi untuk makhluk hidup. Kebanyakan ahli biologi sependapat bahwa makhluk hidup di muka bumi ini dikelompokan menjadi lima kingdom. Sistem klasifikasi lima kingdom ini diusulkan oleh Robert Whittaker pada tahun 1969 dan masih digunakan hingga saat ini. Kelima kingdom tersebut adalah Monera, Protista, Fungi, Plantae, dan Animalia.
a. Kingdom Monera
Kingdom Monera meliputi semua makhluk hidup atau organisme yang belum memiliki membran inti (prokariota)., bersel satu, (uniseluler), dan berukuran mikroskopis. Organisme yang termasuk kingdom Monera adalah semua bakteri dan ganggang hijau biru (sianobakteri), contohnya Bacillus subtilis, Excherichia coli, Anabaena sp., dan Nostoc sp.
b. Kingdom Protista
Sebagian besar anggota kingdom Protista terdiri atas organisme bersel satu yang sudah memiliki membran inti (eukariota). Umumnya, anggota kingdom ini memiliki ciri-ciri seperti hewan dan tumbuhan. Euglena, Amoeba, Paramaecium, dan jamur lendir merupakan beberapa contoh kingdom Protista.
c. Kingdom Fungi (Jamur)
Anggota kingdom Fungi adalah organisme eukariota yang memiliki dinding sel dari kitin. Fungi tidak memiliki klorofil sehingga tidak dapat melakukan fotosintesis. Anggota kingdom ini ada yang merupakan parasit pada organisme lain dan ada pula yang bersimbiosis mutualisme dengan organisme lain. Sebagain besar Fungi merupakan saprotrof (menyerap makanan dari lingkungannya). Beberapa contoh anggota kingdom Fungi adalah Mucor, Aspergillus, Agaricus, Saccharomyces, dan jamur tiram (Pleurotus).
d. Kingdom Plantae (Tumbuhan Hijau)
Kingdom Plantae terdiri atas semua organisme eukariota yang bersel banyak (multiseluler) dan memiliki dinding sel yang mengandung selulosa. Anggota kingdom ini memiliki klorofil sehingga dapat melakukan fotosintesis dan merupakan organisme autotrof. Tumbuhan hijau memiliki daur pergilingan keturunan dalam hidupnya. Tumbuhan hijau dibagi menjadi tumbuhan berspora (lumut dan paku) serta tumbuhan berbiji. Anggota kingdom ini, antara lain Marchantia (lumut hati), Equisetum (paku ekor kuda), padi, mawar, dan kembang sepatu.
e. Kingdom Animalia (Hewan)
Anggota kingdom Animalia terdiri atas organisme eukariota yang bersel banyak dan sudah memiliki organ-organ tubuh khusus. Hewan tidak memiliki klorofil sehingga tidak dapat melakukan fotosintesis. Oleh karena itu, hewan merupakan organisme heterotrof. Sel hewan tidak memiliki dinding sel. Contoh anggota kingdom Animalia adalah cacing, semut, ikan, ular, burung, dan gajah.
2. Filum atau Divisio (Keluarga Besar)
Masing-masing kingdom makhluk hidup dibagi menjadi beberapa filum/divisi. Nama filum hanya digunakan untuk dunia hewan, sedangkan dunia tumbuhan menggunakan nama divisio. Filum atu divisio terdiri atas organisme-organisme yang memilki satu atau dua persamaan ciri. Misalnya, filum Arthropoda memiliki kutikula yang keras dan kaki yang berbuku-buku. Nama filum tidak memiliki akhiran yang khas. Sebaliknya nama divisio umumnya memilki akhiran yang khas, antar lain phyta dan mycota, contohnya Spermatophyta (divisio tumbuhan berbiji) dan Basidiomycota (divisio jamur berbasidium).
3. Kelas
Setiap filum atau divisio memiliki beberapa kelompok takson yang lebih rendah yang disebut kelas. Kita ambil contoh divisio Spermatophyta yang memiliki dua kelas, yaitu monocotyledonae (tumbuhan berkeping biji satu) dan Dycotyledonae (tumbuhan berkeping biji dua). Contoh kelas pada hewan antara lain Mammalia (kelas hewan menyusui), Aves (kelas burung), dan Reptilia (kelas hewan melata).
4. Ordo (Bangsa)
Setipa kelas, baik tumbuhan maupun hewan, terdiri atas beberapa ordo. Pada dunia tumbuhan nama ordo umumnya diberi akhiran ales, contohnya beberapa ordo dari Dicotyledonae, yaitu Malvales (bangsa kapas-kapasan), Rosales (bangsa mawar-mawaran), dan Graminales/Poales (bangsa rumput-rumputan).
5. Famili (Suku atau Keluarga)
Famili atau suatu kelompok organisme yang berkerabat dekat dan memiliki banyak persamaan ciri. Famili merupakan tingkat takso di bawah ordo. Nama famili untuk tumbuhan biasanya diberi akhiran aceae, sedangkan nama famili untuk hewan biasanya diberi akhiran idea, contohnya Malvaceae (keluarga kapas), Solanaceae (keluarga kentang), Felidae (keluarga kucing), Canidae (keluarga anjing), dan Bovidae (keluarga banteng).
6. Genus (Marga)
Genus adalah nama takson yang lebih rendah daripada familia. Beberapa genus membentuk satu familia. Nama genus membentuk satu kata, huruf pertama ditulis dengan huruf kapital, dan seluruh huruf dalam kata tersebut ditulis dengan huruf miring atau dibedakan dengan huruf lainnya. Misalnya diberi garis bawah. Contoh genus adalah Solanum (marga terung dan kentang), Annona (marga sirsak dan srikaya), serta Felis (marga kucing dan macan).
7. Spesies (Jenis)
Spesies atau jenis merupakan tingkatan takson yang paling rendah yang menjadi unit dasar klasifikasi. Spesies adalah suatu kelompok organisme yang dapat melakukan perkawinan antarsesamanya untuk menghasilkan keturunan yang subur (fertil).
Banyak makhluk hidup yang mempunyai nama lokal. Setiap daerah, bahkan setiap negara, memiliki nama lokal yang berbeda untuk spesies atau jenis makhluk hidup yang sama. Agar biologiwan di seluruh dunia dapat berkomunikasi dengan mudah, setiap makhluk hidup harus memiliki nama yang unik yang dikenal di seluruh dunia. Oleh karena itu, berdasarkan kesepakatan internasional digunakanlah metode binomial nomenclature untuk memberi nama setiap makhluk hidup. Dengan metode tersebut suatu jenis tumbuhan atau hewan memiliki nama yang tidak digunakan oleh jenis tumbuhan atau hewan lain.
Metode binomial nomencleture atau tata nama ganda, merupakan metode yang sangat penting dalam pemberian nama dan klasifikasi makhluk hidup. Disebut tata nama ganda karena pemberian nama jenis makhluk hidup selalu menggunakan dua kata (nama genus dan nama spesies). Aturan pemberian nama suatu jenis makhluk hidup adalah sebagai berikut:
a. Nama suatu spesies terdiri atas dua kata, kata pertama merupakan nama genus, sedangkan kata kedua merupakan penunjuk jenis.
b. Huruf pertama nama genus ditulis dengan huruf kapital, sedangkan huruf pertama nama penunjuk jenisnya ditulis dengan huruf kecil.
c. Nama spesies menggunakan bahasa Latin atau yang dilatinkan. Misalnya Babyrousa (babirusa).
d. Nama spesies harus ditulis berbeda dengan huruf-huruf lainnya. Misalnya, jika dalam suatu teks hurufnya normal (tegak), nama spesies harus dicetak italic (miring). Demikian pula sebaliknya. Nama spesies juga dapat ditulis dengan cara diberi garis bawah pada setiap katanya.
e. Jika nama spesies tumbuhan terdiri atas lebih dari dua kata, kata kedua dan berikutnya harus digabung atau diberi tanda penghubung. Misalnya kembang sepatu ditulis Hibiscus rosasinensis atau Hibiscus rosa-sinensis.
f. Jika nama spesies hewan terdiri atas tiga kata, nama tersebut bukan nama spesies, melainkan nama subspesies (anak jenis), yaitu nama takson di bawah tingkat spesies. Contohnya, kucing rumah yang jinak (Felis maniculata domestica).
g. Nama spesies juga mencantumkan inisial nama spesies tersebut, misalnya jagung (Zea mays L.). Huruf L tersebut merupakan inisial dari Linnaeus.
Beberapa taksa sering kali sangat besar, begitu besar sehingga agak kurang berarti. Jika hal itu terjadi, cara mengatasinya adalah taksa tersebut dibagi lagi menjadi beberapa bagian, yaitu subfilum dan subkelas.
C. Klasifikasi Tumbuhan
Regnum plantarum atau dunia plantae (tumbuhan) dalam klasifikasinya dikelompokkan dalam sejumlah divisio, setiap divisio dikelompokkan dalam sejumlah kelas, tiap kelas dalam sejumlah bangsa, demikian seterusnya hingga pada takson terakhir yaitu jenis atau spesies.
Dunia tumbuhan diperkirakan telah meliputi sekitar 300.000 jenis. Berarti haru sdiciptatakan 300.000 nama jenis, ditambah nama marga, suku, bangsa, dan seterusnya. Beberapa buku ada yang membagi divisio menjadi bebrapa sub divisio sebelum menjadi kelas dan lain sebagainya.
Seperti telah diuraikan di atas, amat mungkin terjadi perbedaan-perbedaan pendapat di antara para ilmuwan botani dalam mengklasifikasikan tumbuhan.
a. Alga
Pada garis besarnya, klasifikasi alga adalah sebagai berikut:
1) Rhodophyta (ganggang merah)
2) Phaeophyta (ganggang perang)
3) Chlorophyta (ganggang hijau)
Ciri-cirinya antara lain: Fotosintetik, ada yang uniseluler, berkoloni, berupa filamen atau lembaran. Contohnya antara lain Chlamydomonas, Diatomea, Volvox, dan Spirogyra.
b. Bryophyta (Lumut)
Bryophyta terdiri atas Hepaticae dan Musci. Hepaticae ciri-cirinya adalah tumbuhan hijau yang sudah kompleks, sudah berdaun sederhana, berbatang sederhana, belum berakar yang benar (rizoid). Belum dapat dibedakan antara akar, batang dan daun. Sedangkan kelas Musci sudah jelas ada batang dan daun, tetapi akar masih rizoid. Contoh kelas Hepaticae adalah Lumut hati, dan Marchantia, sedangkan kelas Musci adalah Lumut daun.
c. Pteridophyta
Tumbuhan ini sudah jelas kelihatan batang, daun dan akar yang benar, dan sudah ada sistem pembuluh. Pteridophyta terdiri atas :
1. Kelas Equisetinae (paku ekor kuda), ciri-cirinya adalah memiliki rhizoma (batang bawah tanah) contohnya adalah Equisetum debile (paku ekor kuda).
2. Kelas Lycopodinae (paku kawat), ciri-cirinya adalah batangnya seperti kawat yang dikelilingi daun yang lembut.
3. Kelas Filicinae (paku benar), ciri-cirinya adalah berbatang dan berdaun dengan tulang-tulang daun yang jelas. Namun masih melalui spora untuk melalui perkembangbiakan. Contohnya adalah Suplir, Simbar menjangan (tanduk rusa), paku perak, paku sarang, semanggi, dan Azolla (paku air).
d. Spermatophyta
Tumbuhan berbunga dan menghasilkan biji sebagai alat berkembang biak. Spermatophyta terdiri atas 2 sub divisio:
1. Sub divisio Gymnospermae, ciri-cirinya adalah berbiji terbuka (tidak tertutup dalam buah). Gymnospemae terdiri atas beberapa kelas. Kelas Cycadinae (ciri-cirinya adalah berbatang dan berdaun seperti kelapa, berumah dua); Kelas Coniferae (ciri-cirinya adalah bunganya berbentuk kerucut/ Cone, contohnya damar); kelas Gnetiae (ciri-cirinya adalah mempunyai banyak cabang, contohnya Melinjo).
2. Sub divisio Angiospermae, ciri-cirinya berbiji tertutup terdri atas dua kelas. Kelas Dicotylae (berkeping dua; ciri-cirinya berbiji tertutup, berakar tunggang, cabangnya banyak, daun pada batang atau tersebar, dan bagian bunga berjumlah 2,4,5 atau kelipatannya) dan kelas Monocotylae (berkeping satu; ciri-cirinya berakar serabut, ruas-ruas batangnya nyata, tulagn daunnya sejajar atau melengkung, bagian bunganya 3 atau kelipatannya, biji berkeping tunggal).
D. Klasifikasi Hewan
Tata cara mengelompokkan dan memberi nama hewan, pada dasarnya sama saja dengan pengelompokan dan pemberian nama tumbuhan. Dasar pengelompokan adalah karakteristik yang dimiliki suatu hewan, apakah itu bentuk luarnya (morfologi), anatomi, fisiologi, dan lain-lainnya yang merupakan karakteristik bagi suatu hewan. Tata nama tetap menggunakan binomial nomenklatur atau tata nama biner. Karakter hewan yang digunakan untuk mengelompokkan pada tingkat Filum adalah sebagai berikut:
1. Uniseluler atau multiseluler
2. Diploblastik atau triploblastik
3. Usus berbentuk saluran terdapat dalam tabung
4. Rongga pencernaan ada atau tidak
5. Metamerik atau nonmetamerik
6. Asimetri, simetri bilateral atau simetri radial
7. Anggota tubuh berbuku-buku atau tidak
8. Mempunyai kerangka luar atau dalam
9. Notokordata ada, atau tidak ada
10. Bentuk dan letak sistem organ, misalnya sistem organ syaraf, syaraf pusat ada atau tak ada, bertangga tali, ventral, dorsal atau lainnya.
E. Ikhtisar Klasifikasi Hewan
Regnum mamalia atau dunia hewan terdiri atas 8 filum:
a. Filum Coelenterata, contoh Hidar, Ubur-ubur, binatang karang.
b. Filum Platyhelminthes (cacing pipih), contoh cacing getar, cacaing hati.
c. Filum Nemathelminthes (cacaing gilig), tubuhnya simetris bilateral.Contohnya adalah cacaing kremi, cacing tambang.
d. Filum Annelida, tubuhnya berbuku-buku, triproblastik. Contohnya cacing tanah, lintah.
e. Filum Mollusca, tubuhnya lunak, umumnya berkerangka luar. Contohnya bekicot dan keong.
f. Filum Arthropoda, tubuhnya berkerangka luar, kaki berbuku-buku contohnya udang, kepiting.
g. Filum Echinodermata, merupakan hewan berkulit berduri. Contohnya bintang laut, landak laut.
h. Filum Chordata, merupakan hewa bernotokordata dan hewan bertulang belakang. Filum chordata terbagai atas 2 sub filum yaitu sub filum protochordata dan sub filum vertebrata. Sub vilum vertebrata terbagi menjadi 5 kelas: kelas Pisces contohnya ikan; kelas amphibia contohnya katak; kelas reptilia contohnya buaya, penyu; kelas aves burung contohnya burung unta, bangau; kelas mamalia yang merupakan hewan menyusui.
F. Tingkat Keanekaragaman Hayati
Keanekaragaman hayati yang ada di muka bumi ini dibedakan menjadi tiga tingkat, yaitu keanekaragaman tingkat gen, keanekaragaman tingkat jenis (spesies), dan keanekaragaman tingkat ekosistem. Adanya keanekaragaman pada tingkat gen menyebabkan terjadinya variasi individu-individu dalam satu spesies, baik dalam hal bentuk, sifat, warna, ataupun hal lainnya. Sementara itu, keanekaragaman tingkat spesies akan menimbulkan keanekaragaman di tingkat takson yang lebih tinggi, misalnya di tingkat genus. Di tingkat terdapat bermacam-macam spesies yang hampir saja serupa. Banyaknya variasi dan beranekaragamnya spesies akan menyusun ekosistem yang berbeda pula.
1. Keanekaragaman Tingkat Gen
Gen merupakan faktor pembawa dan pengendali sifat-sifat makhluk hidup yang terdapat di dalam kromosom. Kromosom itu sendiri terdapat di dalam inti sel.
Pada dasarnya, gen-gen yang dimiliki oleh setiap makhluk hidup mengandung perangkat yang sama, tetapi berbeda susunannya. Oleh karena itu susunan gennya berbeda, setiap makhluk hidup memilki sifat, fisiologi, anatomi, dan morfologinya yang berbeda pula.
Setiap makhluk hidup memiliki gen yang sangat banyak dengan susunan yang beragam sehingga apabila terjadi perkawinan dua makhluk hidup, akan terjadi percampuran gen dan terbentuk susunan gen yang baru. Hal tersebut menyebabkan keanekaragaman gen menjadi makin tinggi. Makin banyak jenis gen yang terdapat dalam satu spesies, makin banyak variasi dalam spesies tersebut.
2. Keanekaragaman Tingkat Spesies
Anggota suatu spesies dapat melakukan perkawinan dengan segala anggota spesies tersebut dan menghasilkan keturunan yang subur (fertil). Subur atau fertil artinya dapat melakukan perkawinan lagi dan menghasilkan keturunan. Jadi, walaupun spesies itu nyaris sama, seperti kelinci dan terwelu, mereka tidak dapt melakukan perkawinan karena mereka merupakan spesies yang berbeda. Perkawinan antar spesies dapat saja terjadi, misalnya perkawinan antara kuda dan keledai. Namun, perkawinan tersebut tidak terjadi secara alami karena memerlukan campur tangan manusia. Meskipun kuda dan kedelai mampu berkembang biak bersama dan menghasilkan keturunan (yaitu bagal), keturunannya tersebut steril dan tidak mampu berkembang biak.
Contoh lain perkawinan perkawinan antar spesies adalah perkawinan antara Ilma (sejenis unta dari Amerika Selatan) jantan dan unta berpunuk tunggal betina. Hasil perkawinan itu adalah seekor “cama” (camel/unta dan Ilama).
Di bumi ini terdapat begitu banyak spesies makhluk hidup yang jumlahnya makin bertambah dengan ditemukannya spesies baru. Semua spesies tersebut memiliki ciri-ciri khusus tersendiri. Hal itu menimbulkan keanekaragaman di tingkat spesies. Keanekaragaman spesies dapat dilihat atau diamati pada tingkat takson yang lebih tinggi daripada spesies dalam sistem klasifikasi.
3. Keanekaragaman Tingkat Ekosistem
Setiap spesies makhluk hidup memiliki tampilan atau ciri-ciri morfologi yang berbeda-beda. Hal tersebut dipengaruhi oleh gen-gen yang dimiliki makhluk hidup tersebut dan lingkungan tempat hidupnya.
Semua makhluk hidup selalu berinteraksi dengan lingkungannya. Lingkungan di sekitar makhluk hidup tersusun atas komponen fisik dan komponen kimia. Komponen fisik lingkungan, antar lain iklim, cuaca, air tanah, udara, angin, cahaya, suhu, dan kelembapan. Adapun komponen kimia lingkungan misalnya keasaman, kandungan mineral, dan salinitas. Komponen fisik dan komponen kimia lingkungan itu disebut komponen abiotik. Sedangkan makhluk hidup yang tinggal di suatu lingkungan disebut komponen biotik. Interaksi antara komponen biotik dan abiotik membentuk ekosistem.
Suatu ekosistem sangat dipengaruhi oleh komponen biotik dan abiotiknya. Demikian juga dengan interaksi antarorganisme di dalam ekosistem. Komponen penyusun suatu ekosistem sangat beraneka ragam sehingga interaksi antarkomponennya beranekaragam pula. Komponen ekosistem yang beraneka ragam dan interaksi antarkomponen ekosistem yang juga beranekaragam akan membentuk keanekaragaman ekosistem.
Keanekaragaman ekosistem dapat diamati pada tingkatan organisasi kehidupan yang lebih besar, misalnya biom (biome). Biom merupakan komunitas ekologi yang utama atau formasi makhluk hidup, baik hewan maupun tumbuhan, yang menghuni wilayah yang luas. Biom biasanya diidentifikasikan atas dasar vegetasinya yang khas, misalnya tundra, hutan hujan tropis, dan hutan gugur. Biom sering kali disebut sebagai ekosistem dalam skala besar.
H. Peranan Keanekaragaman Hayati dalam Kehidupan Manusia
Selama hidupnya, suatu jenis makhluk hidup selalu memerlukan makhluk hidup yang lain. Tidak ada satu makhluk hidup pun yang dapat hidup sendiri tanpa bantuan dari makhluk hidup yang lain. Demikian pula manusia. Manusia selalu membutuhkan manusia lain, hewan, tumbuhan bahkan mikroorganisme. Tanpa mereka itu, manusia tidak dapat hidup. Sesungguhnya, banyak sekali manfaat yang dapat kita peroleh dari keanekaragaman hayati, tetapi baru sedikit sekali yang kita ketahui dan kita manfaatkan. Beberapa manfaat keanekaragaman hayati bagi kehidupan manusia antara lain sebagai sumber bahan pangan, bahan sandang, bahan bangunan dan alat-alat rumah tangga, bahan obat-obatan, dan sebagai sumber keindahan.
1. Sumber Bahan Pangan
Berbagai jenis hewan dan tumbuhan dapat digunakan manusia sebagai sumber bahan pangan, diantaranya adalah sebagai makanan pokok, sayuran, buah-buahan, dan lauk pauk.
a. Bahan yang berfungsi sebagai makanan pokok meliputi padi, jagung, gandum, sagu, singkong, ubi dan talas.
b. Bahan yang berfungsi sebagai sayuran antara lain bayam, kangkung, sawi, kubis, kacang panjang.
c. Bahan yang berfungsi sebagai buah-buahan misalnya apel, jambu, duku.
d. Bahan yang berfungsi sebagai lauk pauk contohnya ikan, ayam, sapi.
2. Sumber Bahan Sandang
Beberapa jenis hewan dan tumbuhan yang dapat dijadikan sumber bahan sandang antara lain kapas, biri-biri, ulat sutera.
3. Sumber Bahan Bangunan dan Alat-Alat Rumah Tangga
Bambu, jati, sengon, gaharu, eboni, merbau, kruing, dan bangkirae adalah beberapa contoh tumbuhan yang dapat dijadikan sumber bahan bangunan dan alat-alat rumah tangga.
4. Sumber Bahan Obat-Obatan
Banyak jenis tumbuhan yang dapat dijadikan bahan obat-obatan, seperti mengkudu, jahe, temulawak, dan lainnya. Walaupun rupanya buruk, mengkudu berkhasiat sebagai obat. Selain tumbuhan, hewan juga dapat digunakan sebagai bahan obat-obatan, misalnya cacing tanah untuk obat tifus.

5. Sumber Plasma Nutfah
Plasma nutfah (germ plasm) merupakan substansi yang terdapat dalam setiap kelompok makhluk hidup dan merupakan sumber sifat keturunan yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan untuk menciptakan jenis unggul baru. Untuk memudahkan pengertian, plasma nutfah terkadang juga diartikan sebagai gen. Banyak jenis makhluk hidup baik hewan maupun tumbuhan memiliki sifat-sifat unggul, misalnya tahan penyakit, tahan kekeringan, dan tahan air asin. Hal ini berarti mereka memiliki plasma nutfah atau gen unggul.
6. Sumber Keindahan
Beberapa jenis tumbuhan dan hewan merupakan sumber keindahan, baik bentuk, warna ataupun suaranya, yang dapat dijadikan sebagai hewan atau tanaman hiasan, seperti ikan mas koki, ikan lou han, ikan arwana, burung kutilang, burung kenari, anggrek bulan, mawar, dan bougenvil.
I. Peranan Manusia terhadap Keanekaragaman Hayati
Keanekaragaman hayati yang ada di bumi ini bukanlah sesuatu yang bersifat tetap, ia dapat mengalami berbagai perubahan terutama dalam hal jumlahnya, dapat bertambah ataupun berkurang. Dalam kenyataannya, jumlah keanekaragaman hayati cenderung berkurang. Hal tersebut disebabkan oleh aktifitas manusia, bencan alam, atau seleksi alam. Sesuatu hal yang menyebabkan berkurangnya jumlah keanekaragaman hayati dikatakan merugikan keanekaragaman hayati. Faktor terbesar yang menyebabkan berkurangnya jumlah keanekaragaman hayati adalah aktivitas manusia. Namun, perlu diingat bahwa aktivitas manusia juga dapat meningkatkan atau menguntungkan keanekaragaman hayati.
1. Aktivitas Manusia yang Merugikan Keanekaragaman Hayati
Beberapa aktivitas manusia yang merugikan atau menyebabkan berkurangnya keanekaragaman hayati seperti penebangan hutan, pengurukan lahan basah, pencemaran lingkungan, pertambangan, seleksi.
2. Aktivitas Manusia yang Menguntungkan Keanekaragaman Hayati
Aktivitas manusia juga dapat meningkatkan atau menguntungkan keanekaragaman hayati, beberapa di antaranya adalah penghijauan, penangkaran, perkawinan silang, dan perlindungan alam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

tinggalkan Pesan/komentar anda..!!