Sabtu, 15 Oktober 2011

REPRODUKSI PADA TUMBUHAN

REPRODUKSI PADA TUMBUHAN


Seperti telah disebutkan, tumbuhan dapat berkembang biak dengan cara generatf dan vegetatif. Tumbuhan mangga dapat bereproduksi dengan cara generatif ataupun vegetatif, sedangkan tumbuhan pisang bereproduksi hanya dengan cara vegetatif.

1. Reproduksi Secara Generatif
Dalam reproduksi secara generatif, individu baru yang terbentuk merupakan hasil peleburan atau pertemuan antara sel kelamin (gamet) jantan dan betina. Pada tumbuhan berbiji (Spermatophyta), gamet jantan (sperma) dihasilkan oleh alat kelamin jantan penghasil sebuk sari, sedangkan gamet betina (ovum) dihasilkan oleh alat kelamin betina. Pada tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae), alat kelaim betina dan alat kelamin jantan terdapat di dalam organ reproduksi seksual yang disebut bunga.
Bunga umumnya merupakan struktur hermafrodit, maksudnya dalam satu bunga terdapat alat kelamin jantan dan alat kelamin betina secara bersama-sama, contohnya bunga sepatu, bunga mawar, dan bunga lili. Namun, ada pula bunag yang uniseksual, yaitu memiliki alat kelamin jantan saja atau alat kelamin betina saja.

a. Bagian-bagian Bunga
Suatu bunga dikatakan lengkap atau disebut juga bunga sempurna jika memiliki bagian-bagian bunga, antara lain kelopak bunga (kaliks), mahkota bunga (korola), benang sari (stamen), dan putik (pistilum). Bagian-bagian bunga tersebut tumbuh pada dasar bunga (reseptakulum) yang merupakan pelebaran ujung tangkai bunga. Di bagian terluar bunga terdapat kelopak bunga yang umumnya berukuran kecil dan berwarna hijau. Kelopak bunga tersusun atas lembaran daun-daun kelopak (sepala). Fungsi kelopak bunga adalah membungkus dan melindungi bunga pada saat masih berbentuk kuncup. Di sebelah dalam kelopak terdapat mahkota bunga yang tersusun atas helaian daun-daun mahkota (petala). Petala sering kali berwarna terang dan mencolok untuk menarik perhatian serangga ataupun burung. Kelopak dan mahkota biasa disebut perhiasan bunga. Keduanya tidak menghasilkan gamet.
Disebelah dalam mahkota bunga terdapat sederetan benang sari. Tiap benang sari terdiri atas sebuah kepala sari (antera) yang terletak diujung tangkai sari (filamen). Setiap kepala sari memiliki empat kantong sari (mikrospongarium) yang merupakan tempat berkembangnya serbuk sari (polen). Dalam setiap kantong sari terdapat sel induk mikrospora yang sangat banyak. Tiap sel induk mikrispora mengalami pembelahan meiosis sehingga terbentuk empat mikrospora haploid yang saling bergandengan dalam bentuk tetrad. Kemudian, tiap mikrospora membelah lagi secara mistosis membentuk dua inti haploid yang akan berkembang menjadi serbuk sari. Ketika serbuk sari telah masak, kantong sari akan pecah sehingga serbuk sari di dalamnya akan berhamburan keluar.
Putik biasanya terdapat di bagian tengah bunga. Sebuah bunga dapat memiliki satu atau beberapa putik yang saling bebas atau bersatu pada dasar bunga. Setiap putik memiliki tiga bagian, yaitu kepala putik (stigma), tangkai putik (stilus) dan bakal buah (ovari). Kepala putik merupakan permukaan tempat melekatnya serbuk sari pada saat penyerbukan, sedangkan tangkai putik merupakan penghubung antara kepala putik dan bakal buah. Di dalam bakal buah terdapat satu atau lebih bakal biji (ovula). Pembentukan sel telur atau ovum (gamet betina) terjadi di dalam bakal buah.
Sebuah bakal biji tersusun atas sel-sel parenkim yang disebut nuselus (badan bakal biji) atau megasporangium. Nuselus dikelilingi oleh satu, dua atau tiga selubung atau kulit yang disebut kulit bakal biji (integumen). Integumen tubuh di atas nuselus, tetapi meninggalkan sebuah lubang (mikropil) tempat masuknya buluh serbuk sari nanti. Bakal biji melekat pada diding bakal buah pada suatu bagian yang disebut plasenta melalui sebuah tangkai pendek (funikulus).
Di dalam nuselus berkembang sebuah sel induk kantong embrio atau sel induk megaspora yang diploid. Sel induk tersebut kemudian membelah secara meiosis membentuk empat sel megaspora yang haploid. Satu dari empat sel megaspora berkembang menjadi kantong embrio atau kantong lembaga, sedangkan tiga sel lainnya mereduksi atau berdegenerasi. Selanjutnya, inti sel (nucleus) megaspora melakukan tiga kali pembelahan mitosis sehingga terbentuk tujuh sel dengan delapan inti sel. Inti-inti sel tersebut kemudian bermigrasi dan dua inti sel bersatu di tengah kantong embrio membentuk inti sel endosperm. Sekarang, kantong embiro yang masak memiliki enam sel haploid dan inti sel endosperm diploid. Tiga inti sel yang berada pada arah berlawanan dengan mikropil dinamakan inti sel antipoda, sedangkan tiga inti sel lainnya berada di dekat mikropil. Di antara tiga inti sel yang ada di dekat mikropil, satu inti sel di tengah merupaka ovum (gamet betina), sedangkan du ainti sel pendampingnya disebut inti sel sinergid. Dalam keadaan demikian, bakal biji siap melakukan pembuahan (fertilisasi) yang didahului oleh penyerbukan.

b. Penyerbukan
Penyerbukan (polinasi) adalah proses pemindahan serbuk sari dari kepala sari ke kepala putik sebelum terjadinya pembuahan. Penyerbukan dapat dibedakan berdasarkan jenis perantaranya dan berdasarkan asal serbuk sari yang jatuh di kepala putik.
1) Penyerbukan Berdasarkan Jenis Perantaranya
Penyerbukan dapat berlangsung dengan bantuan berbagai jenis perantara, antara lain air, angina, hewan, dan manusia.

a) Penyerbukan Dengan Perantara Air (Hidrofili)
Penyerbukan dengan perantara air hanya terjadi pada tumbuhan air, baik tumbuhan air tawar maupun tumbuhan air laut. Contoh tumbuhan air yang mengalami penyerbukan dengan perantara air adalah hydrilla verticillata.

b) Penyerbukan Dengan Perantara Angin (Anemofili)
Tumbuhan rumput-rumputan, misalnya jagung, padi, dan gandum adalah contoh tumbuhan yang penyerbukannya dibantu oleh angina. Tumbuhan tersebut umumnya memiliki serbuk sari yang ringan, kering, dan sangat banyak. Kepala dari dan kepala putik tersembunyi. Kepala putik berbulu dan berperan sebagai "jarring" penangkap serbuk sari yang lewat. Umumnya bunga rumput-rumputan tidak memiliki kelopak dan mahkota, kalaupun ada keduanya mereduksi. Bunga tersebut tidak menghasilkan madu (nektar).
Bunga yang penyerbukannya dengan perantara angina mempunyai ciri-ciri :
a) Kepala putik besar
b) Tidak mempunyai perhiasan bunga
c) Berat jenis serbuk sari sangat ringan
Contohnya : pakis haji, tusam, padi ilalang, tebu, gandum dan jagung.

c) Penyerbukan Dengan Perantara Hewan (Zoidiofili)
Hewan-hewan yang dapat membantu terjadinya penyerbukan pada tumbuhan, antara lain serangga, burung, kelelawar, dan siput.
• Penyerbukan dengan Perantara Serangga (Entomofili)
Tumbuhan yang penyerbukannya dibantu oleh serangga memiliki ciri-ciri mahkota berwarna menarik, bunga berbau khas, serbuk sari dan kepala putik lengket, serta memiliki kelenjar madu. Contoh serangga yang dapat membantu penyerbukan, antara lain kupu-kupu (Lepidoptera), lebah (Hymenoptera), kumbang (Coleoptera), dan lalat (Diptera).


• Penyerbukan dengan Perantara Burung (Ornitovili)
Penyerbukan dengan Perantara Burung terjadi pada tumbuhan yang umumnya memiliki kelenjar madu. Contoh burung yang melakukan penyerbukan adalah burung kolibri.
• Penyerbukan dengan Perantara Kelelawar (Kiropterofili)
Karena merupakan hewan nocturnal, biasanya kelelawar membantu penyerbukan tumbuhan yang bunganya mekar pada sore atau malam hari.
• Penyerbukan dengan Perantara Siput (Malakofili)
Penyerbukan ini jarang terjadi, kalaupun terjadi hanya pada tumbuhan yang didatangi siput.

d) Penyerbukan Dengan Perantara Manusia (Antropofili)
Penyerbukan ini merupakan penyerbukan yang sengaja dilakukan oleh manusia atau disebut juga penyerbukan buatan. Hal ini dilakukan karena suatu tumbuhan tidak dapat melakukan penyerbukan sendiri atau karena tidak ada perantara lain yang cocok untuk membantu penyerbukannya. Contoh tumbuhan itu ad salak dan vanili.

2) Penyerbukan Berdasarkan Asal Serbuk Sari Yang Jatuh Di Kepala Putik
Berdasarkan asal serbuk sari yang jatuh di kepala putik, penyerbukan dapat dibedakan menjadi penyerbukan sendiri, penyerbukan tetangga, penyerbukan silang, dan penyerbukan bastar.
a) Penyerbukan Sendiri
Pada penyerbukan sendiri, serbuk sari yang jatuk di kepala putik berasal dari bunga yang sama. Umumnya penyerbukan ini terjadi pda bunga hermafrodit atau biseksual.
b) Penyerbukan Tetangga
Penyerbukan tetangga terjadi jika serbuk sari yang mencapai kepala putik berasal dari bunga lain pada tumbuhan yang sama.
c) Penyerbukan Silang
Disebut demikian jika serbuk sari dari suatu bunga menyerbuki kepala putik bunga lain yang sejenis.
d) Penyerbukan Bastar
Penyerbukan bastar terjadi jika serbuk sari dari suatu buga menempel pada kepala putik bunga tumbuhan lain yang berbeda varietas.


c. Pembuahan
Proses penyerbukan biasanya segera diikuti dengan proses pembuahan (fertilisasi). Namun, pada beberapa jenis tumbuhan penyerbukan tidak selalu diikuti dengan pembuahan. Hal itu dapat terjadi, antara lain karena faktor berikut :
1) Bunga jantan dan bunga betina terdapat pada tumbuhan yang berbeda (tumbuhan berumah dua)
2) Pada bunga hermafrodit, benag sari dan putik masak tidak dalam waktu yang bersamaan.
3) Struktur bunga itu sendiri mencegah terjadinya penyerbukan sendiri, contohnya pada bunga iris (Iris Pseudacorus) dan bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis) putik terletak di atas benang sari.
4) Adanya mekanisme inkompatibilitas (ketidaksesuaian) sendiri, misalnya buluh serbuk sari gagal tumbuh atau gagal mencapai ovum, ketidaksesuaian antara jaringan tangkai putik dan buluh serbuk sarai, serta tidak tersedianya nutrisi esensial.
Pembuahan ad proses peleburan atau bersatunya gamet jantan (sperma) dengan gamet betina (ovum) untuk membentuk suatu zigot. Pada tumbuhan Angiospermae, gamet jantan terdapat di dalam serbuk sari, sedangkan gamet betina tersapat di dalam bakal biji. Agar pembuahan dapat terjadi, inti sel (nucleus) gamet jantan dari serbuk sari harus dapat mencapai inti sel gamet betina di dalam bakal biji dan bersatu dengannya.
Begitu jauh di atas kepala putik, sebutir serbuk sari akan menggunakan larutan gula yang ada di kepala putik sebagai sumber energi untuk membentuk sebuah buluh serbuk sari. Buluh serbuk sari tumbuh di dalam tangkai putik, kemudian menuju bakal buah dan masuk ke dalam bakal biji melalui mikropil. Dua inti yang terdapat pada serbuk sari, yaitu inti vegetatif dan inti generatif, menempati daerah di belakang ujung buluh serbuk sari. Inti vegetatif berfungsi mengatur atau memandu pertumbuhan buluh serbuk sari. Di dalam buluh serbuk sari, inti generatif membelah menjadi dua inti sperma yang dinamakan inti sperma I dan inti sperma II. Ketika mencapai bakal biji, ujung buluh serbuk sari masuk ke kantong embrio yang berisi gamet betina (inti telur) dan inti endosperma melalui mikropil. Di dalam kantong embrio, inti sperma I bersatu dengan inti telur untuk membentuk zigot (yang nantinya tumbuh menjadi embrio tumbuhan atau lembaga), sedangkan inti sperma II bersatu dengan inti endosperma untuk membentuk endosperma (sering kali mengandung suatu makanan cadangan yang akan digunakan oleh embrio tumbuhan di dalam biji. Karena terjadi du akali pembuahan oleh dua inti sperma, pembuahan tersebut dinamakan pembuahan ganda. Pembuahan ganda merupakan ciri khas tumbuhan Angiospermae.
Jikapembuahan terjadi hanya satu kali karena sel telur dan sperma hanya memiliki satu inti, pembuahan itu dinamakan pembuahan tunggal. Pembuahan tunggal terjadi pada tumbuhan Gymnospermae, lumut, dan paku.
Pada dasarnya, fertilisasi pada tumbuhan biji terbuka (Gymnospermae) dan tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae) adalah sama. Perbedaannya, pada Gymnospermae hanya terjadi satu kali peleburan (inti sperma dengan ovum) yang disebut pembuahan tunggal. Sedangkan pada Angiospermae terjadi dua kali peleburan (inti sperma I dengan ovum dan inti sperma II dengan kandungan lemabaga sekunder) yang disebut pembuahan ganda.

1) Pembuahan tunggal
Pembuahan tunggal terjadi pada Gymnospermae. Pembuahan ini diawali oleh menempelnya serbuk sari pada tetes penyerbukan, selanjutnya diserap ke ruang serbuk sari. Sementara itu, di dalam serbuk sari terbentuk dua inti sel, yaitu inti generatif dan inti vegegtatif. Kemudian serbuk sari membentuk buluh serbuk kea rah ruang arkegonium. Di ruang arkegonium inti generatif membelah dua menjadi sel dinding (sel dislokator) dan sel spermatogen. Sel spermatogen membelah menjadi dua sel spermatozoid yang bersilia. Sesaat setelah sel vegetatif lenyap, sel spermatozoid melebur dengan ovum membentuk zigot.

2) Pembuahan ganda
Bunga merupakan alat reproduksi generatif pada Angiospermae. Bunga tersusun dari lapisan-lapisan melingkar yang terletak di atas ujung tangkai yang khusus. Ujung tangkai ini disebut pediselus yang umumnya mengembung membentuk dasar bunga (reseptakulum). Lapisan lingkaran terluar di atas dasar bunga merupakan kelopak bunga (kaliks) yang tersusun atas helaian-helaian yang disebut petal. Gabunga kaliks dan korola membentuk perhiasan bunga, disebut periantum. Kaliks umumnya berwarna hijau, sedangkan korola berwarna-warni bergantung pada jenis tumbuhannya. Lebih kea rah pusat terdapat benang sari (stamen) yang terdiri atas tngakai sari (filament) dan kepala sari (antera). Bagian bunga yang terletak di pusat adalah pitik (pistilum) yang terdiri atas kepala putik (stigma), tangkai putik (stilus) dan kandungan telur (ovarium). Di dalam ovarium terdapat bakal biji (ovulum) dan yang menempel bagian ovarium disebut plasenta.
Pada pembuahan ganda, serbuk sari yang menempel pada kepala putik akan mengalami pembengkakan karena mengisap air dari kepala putik. Pembengkakan ini mengakibatkan pecahnya dinding luar (eksin) serbuk sari. Kemudian dinding dalam dalam (intin) membentuk buluh serbuk yang menembus ke dalam jaringan tangkai putik mencapai celah bakal biji (mikrofil). Tumbuhna buluh serbuk ini dirintis oleh inti vegetatif dalam serbuk sari. Selanjutnya, setelah inti vegetatif lenyap, dua inti generatif (inti sperma I dan inti sperma II) memasuki kandung embrio melalui mikrofil. Kemudian terjadi dua kali peleburan, yaitu inti sperma I dengan ovum dan inti sperma II dengan dua inti kutub. Peleburan pertama menghasilkan lembaga (embrio), sedangkan peleburan ke dua menghasilkan keeping biji (endosperm).

d. Pembentukan biji dan buah
Setelah terjadi pembuahan, sebuah bakal biji akan berkembang menjadi sebuah biji yang mengandung embrio tumbuhan dan makanan cadangan. Dinding terluar (integumrn) bakal biji akan menebal dan mengeras membentuk kulit biji (testa). Pada tersta terdapat suatu luka yang merupakan tempat pelekatan bakal biji pada plasenta di dalam bakal buah.
Embrio tumbuhan yang ada di dalam biji memili satu akar dan calon batang kecil dengan dua keeping biji yang disebut kotiledon. Pada tumbuhan dikotil, makanan dibuat di dalam kotiloden. Kotiloden dapat tumbuh sangat besar dengan kandungan makanan cadangannya sehingga menutupi embrio. Pada tumbuhan monokotil, makanan cadangan tersimpan di dalam endosperma yang terletak di luar kotiledon.
Seiring dengan tumbuhnya biji, bakal buah juga makin membesar. Selain iti, daun mahkota dan benang sari mongering lalu gugur. Selanjutnya, ovari yang membersar itu disebut buah. Menurut definisi secara biologis, buah ad bakal buah yang dibuahi. Buah ada yang dapat dimakan dan ada yang tida.
Di dalam buah terdapat satu atu banyak biji. Dinding buah berkembang dari dinding bakal buah yang disebut perikarp. Di lapisan terluar perikarp terdapat dua luka yang merupakan bekas perlekatan dengan plasenta dan tangkai putik. Dinding buah sering kali lunak dan berdaging, seperti pada anggur, ceri, dan tomat. Dinding buah juga dapat mengeras dan kering, seperti pada kacang tanah dan kenari.
Suatu buah dikatan buah sejati jika berasal dari bakal buah, contohnya kacang ercis dan disebut buah semu jika berasal dari jaringan dasar bunga yang menyatu dengan dinding bakal buah, contohnya buah apel.

e. Pemencaran atau Penyebaran Tumbuhan
Pemencaran atau penyebaran pada tumbuhan erat kaitannya dengan reproduksi karena yang dipencarkan umumnya ad alat reproduksi tumbuhan, misalnya buah dan biji. Suatu jenis tumbuhan dapat tersebar atau terdistribusi pada daerah yang luas karena tumbuhan tersebut mampu memencarkan diri. Daerah tempat penyebaran suatu jenis tumbuhan disebut daerah distribusi.
Pemencaran atau penyebaran pada tumbuhan berfungsi untuk memperluas daerah distribusinya dan untuk mengurangi persaingan untuk mendapatkan cahaya dan air diantara sesame anggota suatu jenis tumbuhan.
Berdasarkan luasnya area atau daerah distribusi, tumbuhan dibedakan menjadi tumbuhan kosmopolit dan tumbuhan endemik.

1) Tumbuhan Kosmopolit
Tumbuhan kosmopolit ad tumbuhan yang daerah distribusinya luas atau terdapat dimana-mana. Contohnya rumput dan lumut.

2) Tumbuhan Endemik
Tumbuhan endemic ad tumbuhan yang daerah distribusinya sempit atau hanya terdapat di daearh tertentu, contohnya cendana dan Raflesia arnoldi.
Usaha pemencaran tumbuhan dapat terjadi karena usaha tumbuhan itu sendiri dan karena bantuan dari luar.

1) Pemencaran Tumbuhan Tanpa Bantuan Faktor Luar
Pemencaran tumbuhan tanpa bantuan faktor luar dilakukan oleh tumbuhan itu sendiri dengan menggunakan, antara lain stolon atau geragih, rizom atau akar tinggal atau akar rimpang, umbi batang, dan umbi lapis. Selain itu, juga dapat disebabkan oleh gerak higroskopis. Gerak higroskopis terjadi karena adanya perubahan kadar air (menjadi kering) pada kulit buah yang sudah tua, terutama kulit buah yang berbentuk polong-polongan, misalnya petai cina, pacar air, dan kembang merak. Jika sudah tua, kulit buah akan pecah sehingga biji-biji di dalamnya terpelanting keluar. Umumnya pemencaran dengan cara ini meliputi daerah distribusi yang tidak jauh atau luas.

2) Pemencaran Tumbuhan Dengan Bantuan Faktor Luar
Pemencaran dengan cara ini memungkinkan daerah distribusi yang sangat luas. Ada empat macam cara pemencaran tumbuhan dengan bantuan faktor luar yaitu, anemokori, hidrokori, zookori, dan antropokori.

a) Anemokori
Anemokori merupakan pemencaran tumbuhan dengan bantuan angina. Dengan bantuan angina, tumbuhan dapat memencar ke tempat-tempat yang sangat jauh dari tumbuhan induknya. Pada prinsipnya, untuk dapat dipencarkan oleh angina, suatu alat perkembangbiakan tumbuhan (buah atau biji) harus oleh angina, misalnya memiliki struktur yang sesuai untuk dapat diterbangkan oleh angina, misalnya
• Biji berbentuk parasut pada buah dandelion;
• Buah bersayap pada tumbuhan Dipterocarpaceae, pinus, buah acer, dan mahoni;
• Biji kecil dan ringan (atau berbentuk serbuk) pada anggrek;
• Biji berambut atau berbulu pada kapuk randu atau kapas.

b) Hidrokori
Hidrokori adalah pemencaran tumbuhan dengan bantuan air. Suatu faktor penting bagi biji atu buah yang dipencarkan oleh air adalah memiliki kemampuan mengapung yang baik dan bersifat impermeable terhadap air untuk mencegah pembusukan. Dua contoh tumbuhan hidrokori, seperti kelapa dan nyamplung (Callophylum sp), memiliki buah yang kulitnya tersusun atas tiga lapisan, yaitu lapisan luar (eksokarp) yang licin, kuat, mengkilat, dan sukar ditembus air; lapisan tengah (mesokarp) yang paling tebal dan berisi rongga udara karena berupa sabut; lapisan dalam (endocarp) yang keras karena berupa tempurung. Di sebelah dalam endocarp juga terdapat rongga udara. Contoh lain tumbuhan hidrokori adalah teratai yang memiliki kulit biji berongga sehingga dapat mengapung.

c) Zookori
Pemencaran tumbuhan oleh hewan dinamakan zookori. Pemencaran jenis ini dapat terjadi secara endozik ataupun secara ektozoik. Secara endozik, biji atau buah tertelan oleh hewan dan keluar bersama kotoran hewan di tempat yang jauh dari tumbuhan induk. Tumbuhan yang memencar dengan cara endozik biasanya memiliki buah yang berwarna cerah, bertekstur lunak, tidak beracun, dan memiliki biji yang berkulit keras sehingga jika tertelan oleh hewan, biji tersebut tidak tercerna oleh alat-alat pencernaan hewan tersebut.
Pada pemencaran tumbuhan yang terjadi secara ektozoik, biji atau buah yang dipencarkan memiliki kait-kait atau alat pelekat untuk melekat pada bulu atau rambut hewan sehingga dapat terbawa ketika hewan tersebut berpindah tempat.
Berdasarkan jenis hewan yang memencarkannya, pemencaran tumbuhan oleh hewan dapat dibedakan menjadi entomokori (oleh serangga), misalnya tembakau; ornitokori (oleh burung), misalnya beringin dan benalu; kiropterokori (oleh kelelawar), misalnya jambu biji; mamakori (oleh mamalia), misalnya kopi dan trembesi.

d) Antropokori
Antropokori adalah pemencaran oleh manusia. Manusia merupakan faktor yang berpengaruh sangat besar terhadap pemencaran tumbuhan. Pemencaran tumbuhan oleh manusia dapat terjadi secara sengaja ataupun secara tidak disengaja. Pemencaran tumbuhan oleh manusia yang dilakukan secara sengaja biasanya terjadi karena suatu tumbuhan mendatangkan keuntungan atau memiliki nilai ekonomi yang tinggi, contohnya kacang tanah yang dibawa dari Amerika Selatan ke Indonesia. Sementara itu, antropokori yang tidak disengaja biasanya terjadi akrena buah atau biji suatu tumbuhan memiliki alat pelekat sehingga dapat melekat pada pakaian atau sepatu yang dikenakan oleh manusia. Contohnya adalah rumput jarum.

2. Reproduksi Secara Vegetatif
Selain bereproduksi secara generatif, beberapa jenis tumbuhan mampu bereproduksi secara vegetatif. Reproduksi secara vegetatif adalah suatu proses aseksual yang tidak melibatkan gamet-gamet (sel-sel kelamin), penyerbukan, dan pembuahan. Tumbuhan baru yang terbentuk dari reproduksi secara vegetatif biasanya identik secara genetik dengan tumbuhan induknya.
Reproduksi secara vegetatif pada tumbuhan tingkat rendah dapat terjadi dengan cara pembelahan sel, pembentukan spora, dan fragmentasi. Adapun pada tumbuhan tingkat tinggi, reproduksi vegetatif dapat terjadi secara alami dan secara buatan.
Reproduksi vegetatif pada tumbuhan dibagi menjadi dua yaitu secara alami dan secara buatan :

a. Reproduksi Vegetatif Alami
1) Pembelahan, misalnya ; ganggang biru, bakteri bersel satu.
2) Fragmentasi, misalnya ganggang bersel banyak, ganggang berbentuk koloni.
3) Geragih/stolon, misalnya; arbei.
Stolon adalah cabang dengan ruas-ruas panjang yang tumbuh merayap di atas tanah, dari buku-bukunya muncul tunas tumbuhan baru.
4) Rimpang/rhizome/akar tinggal, misalnya pada tumbuhan suku Zingiberaciae, bunga tasbih (Canna edulis), lengkuas (Alpinia galaga), jahe (Zingiber officinale), garut (Maranta arudinaceae).
5) Umbi lapis, misalnya ; bawang merah (Allium cepa) dan bawang daun (Allium fistulosum).
6) Umbi batang misalnya; kentang (Solanum tuberosum)
7) Umbi akar, misalnya dahlia
8) Akar, misalnya ; cemara, sukun.
9) Tunas adventif, misalnya cocor bebek (Kalanchoe sp)

b. Reproduksi Vegetatif Buatan
Antara lain :
1) Stek, misalnya : ketela pohon, waru
2) Mencangkok, misalnya : mangga, dan jeruk
3) Okulasi (menempel), misalnya : jambu air
4) Mengeten (menyambung), misalnya : jeruk mawar
5) Merunduk, contohnya : alamanda

Keuntungan dan kerugian perkembangbiakan tumbuhan vegetatif buatan.
Keuntungan :

1) Lebih cepat berbuah
2) Tumbuhan dapat dikembangbiakkan lebih cepat
3) Dapat menghasilkan tanaman baru yang sama sifatnya dengan indukknya
4) Dapat mengembangbiakkan dan melestarikan tumbuhan walaupun tidak menghasilkan biji. Contohnya : pisang.

Kerugian
1) Tanaman yang dicangkok tidak sekuat tanaman dengan biji
Tidal memiliki vareasi dalam keturunan, sehingga daya tahan terhadap penyakit rendah.

a. Reproduksi Vegetatif secara alami
Reproduksi vegetatif secara alami pada tumbuhan tingkat tinggi dapat dilakukan dengan menggunakan tunas, tunas adventif, rizom, umbi lapis, umbi akar, umbi batang, dan geragih atau stolon.


1. Tunas
Pada umumnya tunas muncul pada buku atau nodus batang. Contohnya adalah tunas tanaman pisang yang tumbuh pada buku-buku batang yang tertanam di dalam tanah.

2. Tunas Adventif
Tunas Adventif disebut juga tunas liar. Tunas liar tidak tumbuh pada buku-buku batang, tetapi paa tepi daun (contohnya, cocor bebek) atau pada akar (contohnya, cemara, sukun, dan kersen)

3. Rizom
Sebutan lain untuk rizom adalah akar rimpang atau akar tinggal. Walaupun disebut "akar", sesungguhnya rizom adalah batang yang tumbuh mendatar di dalam tanah. Seperti batang pada umumnya, rizom memiliki buku-buku (ruas-ruas) dan daun-daun. Daun-daun dan rizom tidak berwarna hijau dan hanya berupa selaput tipis seperti sisik. Dari tiap buku dapat tumbuh tunas yang akan muncul ke permukaan tanah sebagai tumbuhan baru. Rizom terdapat pada tumbuhan dari kelompok Zingiberaceae (misalnya, jahe, kunyit, dan kencur) serta pada tumbuhan bambu.

4. Umbi Lapis
Umbi lapis atau bulbus sebenarnya adalah batang pendek dengan ruas-ruas yang sangat rapat dan dikelilingi oleh berlapis-lapis daun yang tebal, berdaging, serta lunak. Di dalam daun-daun ersebut tersimpan makanan cadangan. Reproduksi vegetatif terjadi ketika mulai kuncup atau suing atau bulbus lateral di samping bulbus induk. Umbi lapis terdapat pada bawang merah, bawang putih, dan bunga daffodil.

5. Umbi Akar
Umbi akar merupakan akr yang menggembung berisi makanan cadangan, misalnya pada bunga dahlia. Sesungguhnya, umbi akar tidak dapat membentuk tunas. Meskipun begitu, Umbi akar dahlia memiliki sisa-sisa pangkal batang sebagai tempat tumbuhannya tunas-tunas bar. Tunas-tunas itu selanjutnya dapat tumbuh dan berkembang menjadi tanaman dahlia baru.

6. Umbi Batang
Suatu umbi batang, misalnya kentang, merupakan pembengkakan ujung batang lateral yang tumbuh di dalam tanah. Ujung batang tersebut membengkak karena berisi makanan cadangan. Karena sesungguhnya merupakan batang, pada umbi batang terdapat kuncup-kuncup tunas. Dengan menggunakan makanan cadangan yang ada di dalam umbi, kuncup-kuncup tunas itu dapat tumbuh menjadi tumbuhan baru.

7. Geragih Atau Stolon
Geragih atau stolon merupakan batang yang tumbuh menjalar di permukaan tanah atau sedikit di bawah permukaan tanah. Pada geragih, ujung batang akan teru tumbuh menjalar. Pada batang tersebut terdapat buku-buku dengan jarak antar buku sangat panjang. Pada tiap buku terdapat kuncup (tunas) yang tidak hanya membentuk batang, tetapi juga akar sehingga akan terbentuk tumbuhan baru. Geragih dapat dijumpai pada tanaman stroberi dan pegagan.

b. Reproduksi Vegetatif secara Buatan
Reproduksi Vegetatif secara buatan adalah reproduksi yang sengaja dilakukan oleh manusia, terutama untuk kepentingan pertanian dan holtikultura. Ada beberapa cara Reproduksi Vegetatif buatan yang umumnya dilakukan, antara lain menyetek, mencangkok, merunduk, menempel, dan menyambung.

1. Menyetek
Menyetek adalah mengembangbiakkan atau memperbanyak tumbuhan dengan menggunakan bagian-bagian tumbuhan, seperti batang, daun, dan akar. Tumbuhan yang dapat dikembangbiakkan dengan stek batang umumnya adalah tumbuhan yang berkayu, misalnya singkong, atau ketela pohon, mangga, rambutan, mawar, dan kembang sepatu. Sementara itu, setek daun dapat dilakukan pada tumbuhan yang dapat berkembangbiak dengan tunas adventif pada daun, misalnya cocor bebek dan begonia. Demikian juga setek akar, dapat dilakukan pada tumbuhan yang bereproduksi vegetatif dengan tunas adventif pada akar, contohnya cemara, sukun, dan kesemek.

2. Mencangkok
Upaya untuk menumbuhkan akar pada ranting atau cabang tumbuhan dinamakan mencangkok. Tumbuhan yang dapat dicangkok adalah tumbuhan dikotil yang berkayu dan berkambium, contohnya jeruk, jambu, mangga, mawar, bogenvil, dan belimbing. Setelah tumbuh akar, cabang yang dicangkok dapat dipotong dan ditanam dalam tanah. Dibandingkan perbanyakan tumbuhan dengan cara lain, tingkat keberhasilan mencangkok lebih tinggi.

3. Merunduk
Merunduk adalah membengkokkan batang atau cabang tumbuhan kearah bawah sehingga hingga menyentuh tanah. Kemudian, di bagian batang atau cabang tumbuhan yang menyentuh tanah dibuat goresan dan ditimbun dengan tanah. Dari bagian yang ditimbun dengan tanah akan tumbuh akar. Jika akar sudah cukup kuat, batang atau cabang yang menghubungkan anakan dengan tumbuhan induk dapat dipotong. Cara ini dapat dilakukan pada tanaman apel, anyelir, alamanda, dan anggur.

4. Menempel
Menempel atau okulasi adalah menempelkan mata tunas suatu tumbuhan ke batang tumbuhan lain yang sejenis. Tujuannya adalah untuk menggabungkan dua sifat unggul yang berbeda sehingga diperoleh tumbuhan dengan sifat-sifat yang diinginkan. Sebagai contoh, suatu jenis tanaman mangga yang berbatang dan berakar kuat, tetapi buahnya masam, diokulasi atau ditempeli dengan mata tunas tanaman mangga lain yang buahnya manis, tetapi berbatang dan berakar lemah dengan okulasi tersebut, diharapkan diperoleh jenis tanaman mangga yang berbatang dan berakar kuat serta menghasilkan buah yang manis.

5. Menyambung
Sebutan lain untuk menyambung adalah mengenten atau grafting. Menyambung atau mengenten memiliki tujuan yang sama dengan menempel atau okulasi, yaitu menggabungkan dua sifat unggul tanaman untuk memperoleh tanaman dengan sifat-sifat yang diharapkan. Tanaman yang dapat disambung adalah tanaman yang berkerabat dekat, misalnya satu famili. Contoh tanaman yang dapat disambungkan adalah jambu sukun dan jambu biji atau ketela rambat dan kangkung darat, singkong biasa dengan singkong karet.
Reproduksi bertujuan untuk mempertahankan suatu jenis organisme agar tetap lestari. Reproduksi vegetatif pada tumbuhan tingkat tinggi dilakukan secara alami atau buatan. Reproduksi vegetatif alami dilakukan dengan menggunakan stolon, rhizome, kormus, dan tuber. Reproduksi vegetatif buatan dilakukan dengan cara menyetek, merunduk, mencangkok, menyambung dan okulasi.
Reproduksi generatif pada tumbuhan tingkat tinggi yaitu terbentuknya individu baru hasil peleburan sel telur dan sel sperma. Proses peleburan itu disebut fertilisasi yang sebelumnya didahului pleh proses penyerbukan (polinasi) polinasi adalah peristiwa menempelnya serbuk sari pada kepala putik berdasarkan asal serbuk sari, ada empat macam penyerbukan, yaitu otogami, geitonogami, allogami/xenogami, dan bastar/hibridisasi.
Ada empat faktor penyebab sampainya serbuk sari pada kepala putik, yaitu perantara air (hidrogami), perantara hewan (ziodiogami), perantara serangga (entomogami), dan perantara manusia (antropogami).
Fertilisasi pada tumbuhan berbiji terbuka (Gymnospermae) hanya terjadi satu kali peleburan (inti sperma dengan ovum), yang disebut pembuahan tunggal. Sedangkan fertilisasi pada tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae) terjadi dua kalui peleburan (inti sperma I dengan ovum dan inti sperma II dengan kandunga lembaga sekunder) yang disebut pembuahan ganda.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

tinggalkan Pesan/komentar anda..!!