Sabtu, 15 Oktober 2011

SISTEM KOORDINASI

A. Sistem Saraf
Sistem koordinasi, terutama pada hewan-hewan tingkat tinggi, dilakukan oleh subsistem saraf dan subsistem hormon.
Untuk memahami fungsi koordinasi, terlebih dahulu perlu mengetahui penyusun jaringan saraf, yang pada dasarnya merupakan jaringan komunikasi. Penyusun jaringan ini adalah sel-sel yang mempunyai spesialisasi khusus, yang dibedakan menjadi dua, yaitu sel neuron dan neuroglia.
Sel neuron merupakan sel yang mempunyai sifat melanjutkan informasi, baik dari organ penerima rangsang ke pusat susunan saraf dan sebaliknya. Dengan demikian, berarti bahwa sel tersebut merupakan sel yang berfungsi dalam komunikasi, sedang sel-sel neuroglia selain memungkinkan terjadinya kegiatan neuron, juga merupakan kelompok sel yang memberikan nutrisi pada sel neuron serta memberikan bahan yang diperlukan untuk hidupnya.
Sel neuron terdiri atas tiga bagian, yaitu 1) badan sel, yang berwarna kelabu dan mengandung nukleus dan nukleolus, 2) dendrit, suatu bangunan yang berupa lanjutan plasma, dan berfungsi meneruskan impuls saraf (informasi) menuju badan sel, dan 3) akson, yang berfungsi untuk meneruskan impuls saraf dari badan sel ke sel lain.
Sel neuron ada yang mempunyai selubung, disebut selubung mielin, yang berfungsi sebagai pelindung atau isolator. Di bagian tertentu, terdapat bagian akson yang tidak terselubung disebut sebagai Nodus Ranvier. Selubung disusun oleh sel-sel pipih yang disebut sel Schwann.
Mengenai sistem saraf ini berturut-turut akan diuraikan tentang 1) struktur saraf pusat dan saraf tepi, 2) lengkung refleks dan gerak refleks, 3) saraf otonom, dan 4) bahaya penggunaan obat-obatan dan narkotika terhadap sistem saraf.
1. Struktur Saraf Pusat dan Saraf Tepi
Sebagai sistem koordinasi yang mempunyai fungsi mengatur dan mengendalikan, maka dikenal adanya pusat pengaturan yang disebut sistem saraf pusat, dan sistem yang menyampaikan informasi ke pusat pengaturan dan dari pusat pusat pengaturan yang disebut sistem saraf tepi.
a. Sistem Saraf Pusat
Sistem saraf pusat terdiri dari otak dan sumsum. Otak dibedakan menjadi otak besar, otak tengah, otak depan dan otak kecil. Sumsum dibedakan menjadi sumsum lanjutan dan sumsum tulang belakang.
Sistem saraf pusat, baik otak maupun sumsum dilindungi oleh suatu selaput yang terdiri atas jaringan pengikat yang disebut meninges. Meninges dapat dibedakan atas 3 macam, yaitu lapisan paling luar disebut durameter, merupakan selaput yang kuat, lapisan yang ditengah disebut arachnoid, sedang lapisan yang paling dalam, dan juga paling tipis disebut piameter. Di antara piameter dan arachnoid terdapat ruang yang disebut ruang subarachnoid, berisi cairan yang disebut sebagai cairan serebrospinal. Cairan ini juga merupakan pelindung karena sifatnya meredam benturan yang mungkin terjadi, baik pada otak, yaitu antara otak dan tulang kepala, maupun pada sumsum tulang belakang yaitu, antara sumsum tulang belakang dengan tulang belakang.
1) Otak Besar
Otak besar atau serebrum terdiri dari bagian belakang (lobus oksipitalis), bagian samping (lobus temporalis) dan bagian depan (lobus frontalis). Lobus oksipitalis mempunyai peranan yang berhubungan dengan penglihatan. Bahkan sebuah pukulan yang diarahkan pada otak bagian belakang ini dapat menimbulkan sensasi adanya kilatan cahaya. Bila bagian ini rusak atau diambil, penderita akan mengalami kebutaan meskipun faal matanya normal.
Pusat pendengaran terletak pada serebrum bagian samping (lobus temporalis) di sebelah atas telinga. Serebrum juga dibedakan menjadi bagian depan (lobus frontalis) dan bagian belakang (lobus parientalis) yang disebabkan adanya suatu lekukan atau parit. Serebrum bagian depan ada kaitannya dengan pengendalian gerak otot, sedang serebrum bagian belakang bersifat sensorik karena peka terhadap perubahan yang menyangkut panas, dingin, tekanan dan sentuhan pada alat indera di kulit.
Mengingat bahwa serebrum dapat menerima sensasi penginderaan, dan juga ada bagian yang mengendalikan dan mengatur kerja organ-organ tertentu sehingga bersifat motorik, maka serebrum dapat dibedakan menjadi beberapa area (daerah), yaitu: 1) area sensorik, yang ada kaitannya dengan penerimaan rangsang dari organ penerima (reseptor) yang terletak di indera, 2) area motorik, yang berperan untuk merespons rangsang yang sampai ke otak, melalui informasi atau perintah yang dikirim ke pelaksana atau efektor, seperti otot dan kelenjar, dan 3) area asosiasi, yang menghubungkan area motorik dan area sensorik.
Area asosiasi merupakan area yang memegang peranan penting dalam proses belajar, seperti berpikir, membuat suatu keputusan atau kesimpulan, menyimpan ingatan dan yang berkaitan dengan belajar bahasa.
2) Otak Tengah
Otak tengah memegang peranan pada refleks mata, juga yang berkaitan dengan tonus otot dan posisi atau kedudukan tubuh. Tonus otot adalah suatu kontraksi sebagian dari otot secara terus-menerus.
3) Otak Depan
Otak depan (diensefalon) terdiri atas talamus dan hipotalamus. Talamus berfungsi untuk menerima semua rangsangan yang berasal dari reseptor, kecuali bau, dan selanjutnya meneruskan ke area sensorik serebrum. Hipotalamus mempunyai fungsi yang berkaitan dengan pengaturan suhu, pengaturan nutrian, penjagaan agar tetap bangun dan penumbuhan sifat agresip.
4) Otak Kecil
Otak kecil (serebelum) memegang peranan dalam pengaturan yang terkoordinasi terhadap otot, tonus otot, keseimbangan dan posisi tubuh. Gerakan yang halus dan luwes juga terkoordinasi oleh serebelum ini. Koordinasi adalah berfungsinya alat-alat yang saling berhubungan secara selaras dan teratur, khususnya tentang pengarturan otak besar terhadap kegiatan kelompok-kelompok otot dalam melaksanakan gerakan.
5) Sumsum Lanjutan
Peranan sumsum lanjutan atau medula oblongata adalah mengatur denyut jantung, menyempitkan pembuluh darah, melakukan gerak menelan, batuk, bersin dan bersendawa serta muntah. Bagian sumsum lanjutan yang menghubungkan sumsum tulang belakang dan otak disebut pons. Pada bagian ini terjadi pengaturan pernapasan.
6) Sumsum Tulang Belakang
Sumsum tulang belakang merupakan lanjutan medula oblongata terus ke bawah sampai ke vertebra lumbalis kedua. Di bagian tengah berkas saraf dijumpai adanya saluran yang berisi cairan serebrospinal, seperti yang terdapat di otak. Pada potongan melintang, bentuk sumsum tulang belakang dengan bagian tengah yang berwarna kelabu terlihat seperti huruf H, sedangkan di bagian luarnya berwarna putih karena mengandung dendrit dan akson, bentuknya seperti tiang. Bangunan yang seperti huruf H atau sayap tersebut dibedakan menjadi sayap vrental yang mengandung badan neuron motorik, yang aksonnya menuju efektor, sedangkan sayap dorsal mengandung badan neuron sensorik. Sumsum tulang belakang memegang peranan pada terjadinya refleks. Ventral artinya mengenai atau mengarah ke perut. Dorsal artinya mengenai atau mengarah ke punggung.
b. Sistem Saraf Tepi
Sistem saraf tepi (sistem saraf perifer) pada dasarnya terdiri dari lanjutan sel saraf yang berfungsi untuk membawa impuls saraf atau rangsangan saraf menuju ke dan dari sistem saraf pusat. Dari segi arah impuls, sistem saraf tepi dapat dibedakan menjadi 1) sistem aferen, yang membawa impuls saraf dari reseptor menuju ke sistem saraf pusat, dan 2) sistem saraf eferen, yang membawa impuls saraf dari sistem saraf pusat ke efektor.
Dari segi asal atau kaitannya, sistem saraf tepi dibedakan menjadi, 1) Saraf otak atau saraf kranial, yang jumlahnya 12 pasang, dan 2) saraf tulang belakang, yang jumlahnya 31 pasang.
Saraf yang berasal dari atau yang ada kaitannya dengan sumsum tulang belakang merupakan campuran berbagai saraf, karena yang berasal dari akar dorsal yang bersifat sensorik, kemudian menjadi satu ikatan dengan saraf yang berasal dari bagian ventral yang sifatnya motorik.
Telah diketahui bahwa saraf tersusun atas sel-sel saraf yang disebut neuron. Dalam hal ini dibedakan pula adanya 1) neuron sensorik, yang menyusun saraf sensorik, 2) neuron motorik, yang menyusun saraf motorik, dan 3) neuron asosiasi, terdapat di otak dan sumsum tulang belakang, dan menghubungkan neuron sensorik dan motorik.
Informasi berita yang disebut sebagai impuls saraf dapat berlangsung karena adanya proses konduksi. Konduksi ini dapat terjadi karena adanya loncatan listrik yang disebabkan karena antara neuron satu dan yang lain terdapat jarak yang disebut sinapsis. Konduksi semacam ini disebut sinapsis listrik. Hal ini dimungkinkan karena plasma sel saraf dalam keadaan istirahat sehingga membran bagian luarnya bermuatan listrik positif. Pada waktu ada impuls maka membran yang tadinya bermuatan positif akan berubah menjadi negatif dan membran yang berikutnya juga akan menjadi negatif sedang yang tadinya negatif kembali menjadi positif. Demikian seterusnya sehingga terjadi konduksi impuls.
Selain sinapsis listrik dikenal pula adanya sinapsis kimiawi, yaitu informasi diasmpaikan melalui suatu zat kimia tertentu, yang disebut neuro transmitter. Konduksi impuls hanya berlangsung ke satu arah, dari neuron prasinapsis ke neuron pasca-sinapsis. Selain sinapsis antarneuron, juga dikenal adanya sinapsis antara neuron dan otot (muskulus). Sinapsis semacam ini disebut sinapsis neuro-muskeler, dan yang menghubungkan sel saraf dengan sel kelenjar, disebut sinapsis neuroglanduler (grandula adalah istilah untuk kelenjar).
2. Lengkung Refleks dan Gerak Refleks
Refleks pada dasarnya merupakan suatu mekanisme respons dalam rangka mengelak dari suatu rangsangan yang dapat membahayakan atau mencelakakan. Ciri refleks adalah respons yang terjadi berlangsung secara cepat dan tidak disadari oleh yang bersangkutan. Refleks semacam ini digolongkan pada refleks bawaan yang pusatnya pada sumsum tulang belakang. Impuls saraf berasal dari reseptor dibawa oleh saraf aferen, yang bersifat sensorik, menuju ke sistem saraf pusat, yaitu sumsum tulang belakang. Di sumsum tulang belakang impuls ditransfer oleh neuron asosiasi dari neuron sensorik ke neuron motorik. Dari neuron motorik impuls dialirkan melalui saraf motorik ke efektor.
Mari kita coba untuk mengingat bagaimana bila seseorang kakinya tertusuk duri? Gerak spontan yang terjadi adalah yang bersangkutan menarik kakinya. Hal ini jelas merupakan gerak refleks, tetapi sering terjadi adanya kemungkinan bahwa selain yang bersangkutan menarik kakinya juga berteriak mengaduh secara spontan. Demikian pula dengan kedua tangannya yang langsung memegang kaki yang ditarik tersebut. Bila hal ini terjadi, maka refleks semacam ini disebut refleks kompleks sebagai kebalikan refleks tunggal yang hanya mengikut sertakan efektor tunggal. Ada kemungkinan bahwa teriakan mengaduh tersebut tidak terjadi secara spontan, artinya ada waktu tenggang yang agak lama. Bila hal ini terjadi, maka semua gerak tadi adalah refleks, kecuali teriakan mengaduh yang merupakan gerak yang disadari. Ini berarti bahwa selain ada impuls saraf yang menuju ke pusat refleks (sumsum tulang belakang), juga ada impuls saraf yang menuju ke pusat sadar (otak besar).
Ada pula respons yang terjadi dengan cepat dan tidak disadari karena sifatnya rutin (sudah dilakukan berkali-kali), yaitu respons yang tadinya dilakukan dengan kesadaran penuh, bila dilakukan berulangkali maka akhirnya akan terjadi respons dengan “tidak disadari”. Misalnya, bila kepada seorang pelajar SMU ditanyakan berpa 7×8, maka secara spontan yang bersangkutan dapat menjawab hasilnya secara benar. Berbeda dengan kalau hal ini ditanyakan kepada seorang anak SD kelas IV, maka ia akan berpikir lama untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut. Orang awam akan menyebut peristiwa ini sebagai refleks, bukan refleks bawaan tetapi refleks yang dipelajari. Tentu saja, istilah ini tidak benar, karena impuls saraf semuanya menuju ke otak besar sebagai pusat kesadaran. Bagaimana dengan gerak spontan pada seseorang yang telah mendalami bela diri, katakanlah seorang yang dijuluki pendekar, apakah tergolong refleks?
3. Sistem Saraf Otonom
Sistem saraf otonom merupakan sistem yang mengendalikan gerak organ-organ tubuh yang bekerja secara otomatik, seperti denyut jantung, gerak otot polos pada organ-organ dalam, perubahan pupil, dan kontriksi (mengkerut) dan dilatasi (melebarnya) pembuluh darah. Sifat sistem saraf otonom tersebut adalah motorik, dengan demikian digolongkan pada saraf eferen.
Meskipun demikian ada perbedaan antara saraf otonom yang eferen ini dengan saraf yang tergolong pada sistem saraf perifer yang eferen. Sasaran saraf perifer yang eferen adalah otot-otot yang bekerja di bawah kehendak, yang dinamakan sebagai saraf eferen somatik, sedang saraf eferen yang tergolong pada sistem saraf otonom sasarannya adalah organ dalam (viseral), yang dinamakan viseral everen.
Sistem saraf otonom terdiri dari (1) saraf simpatik, dan (2) saraf parasimpatik. Kedua saraf tersebut bekerja pada efektor yang sama, namun pengaruh kerjanya adalah berlawanan. Karena itu dikatakan keduanya bersaifat antagonistik.
Ada anggapan bahwa efek kerja saraf simpatik adalah memacu atau mempercepat kerja organ, sedang saraf para simpatik kerjanya menghambat atau memperlambat. Dalam hal tertentu hal ini memang benar, seperti yang terjadi pada jantung. Saraf simpatik mempercepat denyut jantung, sedang saraf parasimpatik memperlambat denyut jantung, sehingga jantung kembali berdenyut secara normal. Akan tetapi dalam hal lain, seperti pada alat pencernaan terjadi sebaliknya, proses pencernaan dipercepat oleh saraf para simpatik dan diperlambat oleh saraf simpatik sehingga kembali normal.
Dari efek kerja yang berlawanan tersebut, jelas bahwa produknya suatu peristiwa yang menuju pada keadaan yang normal. Bandingkan hal ini dengan efektor yang kerjanya dipacu oleh saraf motorik yang bukan saraf otonom! Efektor tersebut memang akhirnya akan kembali bekerja secara normal, tetapi memerlukan waktu yang lama, lagi pula tergantung pada adanya pacuan tersebut. Bila sudah tidak ada pacauan lagi maka secara perlahan-lahan efek pacuan tersebut akan hilang.
Sistem saraf otonom tidak sepenuhnya otonom, dalam arti bahwa kerjanya tidak ada yang mempengaruhi. Saraf otonom dapat dipengaruhi antara lain oleh hipotalamus yang mempunyai hubungan baik dengan saraf parasimpatik maupun saraf simpatik. Bagian posterior dan lateral hipotalamus, bila dirangsang akan mempercepat denyut jantung, menaikkan tekanan darah karena adanya kontriksi pembuluh darah, juga menaikkan kecepatan respirasi, melebarnya pupil dan menghambat kegiatan saluran pencernaan. Bagian depan dan sisi medial hipotalamus mengendalikan saraf parasimpatik. Efeknya berupa kebalikan efek yang disebabkan oleh saraf simpatik.
Kerja normal tubuh atau anggota tubuh, secara tidak kita rasakan adalah dalam keadaan terkoordinasi dengan baik. Organ yang berfungsi untuk ini adalah otak kecil (serebelum). Tidak hanya masalah koordinasi antara anggota tubuh saja yang diatur oleh serebelum, tetapi juga posisi tubuh keseluruhan, juga hubungan antara organ tubuh dengan benda-benda yang di luar tubuh. Lokasi atau tempat bagian-bagian tubuh kita pun telah “terpetakan” sehingga dapat dikoordinasi dengan anggota tubuh yang lain. Dengan lain perkataan lokasinya dikenal oleh anggota tubuh yang lain sehingga bisa dijangkau walaupun tidak dengan pertolongan indera.
B. Hormon
Komponen sistem koordinasi adalah sistem saraf dan sistem endokrin. Kemampuan luar biasa yang secara spontan muncul pada seseorang karena ketakutan, selain disebabkan oleh kerja sistem saraf, juga dipengaruhi oleh kerja sistem hormon. Pada saat orang dalam keadaan ketakutan, timbul perjuangan dalam diri orang tersebut untuk melawan mati-matian atau lari menghindar. Pada saat itu kelenjar adrenalin yang terletak di atas ginjal, yang disebut kelenjar suprarenalis, menghasilkan hormon adrenalin yang berfungsi untuk mempertinggi frekuensi jantung dan memperkuat denyutnya. Selain itu hormon tersebut mempengaruhi terjadinya perubahan kimiawi, yaitu dalam bentuk perubahan glikogen menjadi glukosa. Dengan demikian kebutuhan energi dapat dipenuhi karena glukosa merupakan zat makanan sebagai sumber energi.
Berikut akan dijelaskan berturut-turut mengenai 1) kelenjar-kelenjar endokrin, 2) hormon estrogen dan progesteron dalam teknologi Keluarga Berencana (KB), dan 3) hubungan hormon dengan sistem saraf.
1. Kelenjar-kelenjar Endokrin
Sistem endokrin adalah sistem yang meliputi aktivitas beberapa kelenjar yang mengatur dan mengendalikan aktivitas steruktur tubuh, baik yang berwujud sel, jaringan atau organ. Kelenjar endokrin adalah kelenjar yang tidak mempunyai saluran khusus, yaitu saluran yang bermuara langsung ke dalam pembuluh darah, dan bukan ke dalam rongga tubuh, oleh sebab itu disebut sebagai kelenjar buntu.
Kelenjar endokrin menghasilkan sekrit dalam atau sekrit internal. Sekrit yang diproduksi masuk ke peredaran darah secara langsung dan beredar bersama darah. Kelenjar endokrin menghasilkan sekrit internal, berupa zat organik yang sifatnya khusus dalam jumlah yang kecil tetapi mutlak dibutuhkan oleh tubuh karena mempunyai fungsi regulasi yang integral.
a. Macam Kelenjar Endokrin dan Letaknya
Dilihat dari aktivitasnya, kelenjar endokrin dapat dibedakan:
1) Kelenjar yang bekerja sepanjang hayat, misalnya hormon yang memegang peranan pada proses metebolisme,
2) Kelenjar yang bekerjanya mulai saat tertentu, misalnya hormon kelamin,
3) Kelenjar yang bekerja hanya sampai saat tertentu saja, misalnya kelenjar timus yang terdapat di rongga dada.
Ditinjau dari aspek macam dan lokasinya, kelenjar endokrin dapat dibedakan menjadi:
1) Kelenjar hipofisis, yang terletak pada dasar otak besar;
2) Kelenjar tiroid, yang dikenal sebagai keenjar gondok yang letaknya di daerah leher;
3) Kelenjar paratiroid, juga disebut sebagai kelenjar anak gondok yang letaknya di dekat kelenjar gondok;
4) kelenjar pankreas, dikenal sebagai pulau-pulau Langerhans, yang letaknya di dekat ventrikulus (perut besar).
5) kelenjar adrenal atau suprarenalis yang terdapat di bagian atas ginjal; dan
6) kelenjar gonad atau kelenjar kelamin, yang pada wanita terletak di daerah abdomen (perut), sedang pada pria letaknya di buah zakar dalam kantung buah zakar (skrotum).
b. Fungsi kelenjar endokrin
1) Kelenjar hipofisis
Kelenjar hipofisis mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan tulang panjang, sehingga berkaitan dengan pertumbuhan tinggi seseorang. Penyimpangan yang menyangkut kelenjar ini, dikenal dengan adanya menusia raksasa yang sering dipertontonkan dalam sirkus. Hormon ini juga mempunyai aktivitas kelenjar hormon lain, seperti kelenjar tiroid, kelenjar adrenal, kelenjar gonad (kelenjar kelamin), dan juga mempengaruhi sekresi air susu, mempercepat pertumbuhan serta mengatur keseimbangan air.
Kelainan kerja hormon ini dapat dibedakan menkjadi dua, yang pertama disebabkan karena hipersekresi atau kerja hormon berlebihan sehingga menghasilkan sekrit yang banyak. Keadaan ini juga disebut hiperfungsi, dan yang kedua adalah sebaliknya yang disebut hiposekresi yang disebabkan karena hipofungsi.
Dalam keadaan hiperfungsi, maka akibat yang terjadi adalah pertumbuhan yang luar biasa. Kelainan ini disebut gigantisme, yaitu suatu pertumbuhan raksasa. Gigantisme hanya terjadi pada pertumbuhan remaja, sebab bila terjadi di luar masa pertumbuhan normal, yaitu di atas umur 25 tahun maka kelainan yang terjadi disebut akromegali. Dalam hal ini pertumbuhan hanya terjadi pada ujung-ujung tulang saja. Misalnya dagu memanjang, demikian pula ujung-ujung jari, tetapi pertumbuhannya tidak serasi.
Dalam keadaan hipofungsi, maka pertumbuhan terhambat sehingga penderita digolongkan pada manusia kerdil. Dalam hal ini, walaupun pertumbuhan tulang terhambat, tetapi pertumbuhannya tetap serasi.
Berikut Hormon yang dihasilkan Kelenjar Hipofisis
1. Hormon Adenotrop : Mempengaruhi kerja kelenjar anak ginjal.
2. Hormon Treotrop : Mempengaruhi kerja kelenjar anak gondok.
3. Hormon Prolaktin (laktogen) : Mempengaruhi kerja kelenjar anak susu.
4. Hormon Gonadotrop : Mempengaruhi kerja kelenjar kelamin

2) Kelenjar Tiroid dan Paratiroid
Kelenjar-kelenjar ini terletak di daerah leher, dekat dengan tulang rawan yang disebut buah adam. Keistimeaan kelenjar tiroid adalah kaya akan pembuluh darah. Diperkirakan sebanyak empat liter darah mengalir di daerah ini selama satu jam.
Kelenjar tiroid menghasilkan tigan macam hormon, yang dua macam serupa, yaitu tiroksin dan triiodotironin. Yang ketiga adalah kalsitonin. Hormon tiroksin mempunyai fungsi yang luas, yaitu mempengaruhi proses metabolisme, proses produksi panas, dan oksidasi di sel-sel tubuh, kecuali di otak dan limpa. Hormon ini juga berpengaruh terhadap proses pertumbuhan fisik dan perkembangan mental, kematangan seks, dan distribusi air dan garam dalam tubuh. Di dalam hati, hormon tiroksin ikut berperan dalam mengubah glikogen menjadi glukosa.
Hormon kalsitonin berperan dalam menjaga keseimbangan kalsium dalam darah. Bila kadar ion kalsium dalam darah naik, maka kadar kalsitonin naik pula sehingga kalsium di endapkan di tulang.
Kelenjar paratiroid terletak di bagian dorsal kelenjar tiroid. Hormon yang dihasilkan disebut parathormon. Bila kadar kalsium dalam darah lebih rendah dari normal, maka kadar parathormon disekresikan. Peristiwa ini menyebabkan larutnya kalsium dalam tulang, kemudian masuk dalam darah dalam bentuk ion kalsium.
Hipofungsi atau hiposekresi kelenjar tiroid menyebabkan terjadinya penyimpangan pada anak-anak yang disebut kretinisme, yaitu pertumbuhannya terhambat, baik fisik maupun mentalnya. Bila hal ini terjadi pada orang dewasa, maka terjadi mix-oedem, yaitu suatu kegemukan yang luar biasa (obesitas), dan kecerdasan penderita menurun. Hipersekresi atau hiperfungsi kelenjar tiroid dapat menyebabkan penderita bertanbah aktivitas kerja atau kegiatannya tetapi badan tetap kurus. Kelainan ini disebut kelainan Basedow.
Hiperfungsi kelenjar paratiroid akan mengakibatkan jumlah kalsium dalam darah bertambah, sehingga menyebabkan terjadinya pengendapan kalsium di ginjal yang dikenal sebagai batu ginjal. Dalam keadaan hipofungsi kelenjar paratiroid akan terjadi kejang-kejang otot yang disebut tetani. Hal ini akan menyebabkan kematian bila menyerang otot pernafasan.
3) Kelenjar Adrenal dan Gonad
Kelenjar adrenal terdapat di bagian atas ginjal dan menghasilkan hormon golongan kortikoid. Ini terjadi bila kelenjar mendapat rangsangan hormon adrenokortikotropik (ACTH) yang berasal dari hipofisis.
Hormon yang dihasilkan kelenjar adrenal adalah, 1) hormon kortikoid-mineral yang menyerap natrium dari darah dan sekaligus mengatur reabsorbsi air pada ginjal, 2) hormon gluko-kortikoid yang berperan dalam menaikkan kadar glukosa darah, juga pengubahan protein menjadi glikogen di hati dan seterusnya mengubah glikogen menjadi glukosa, dan 3) hormon androgen yang mempunyai fungsi bersama-sama dengan hormon yang berasal dari gonad untuk menentukan sifat kelamin sekunder pria. Ketiga hormon tersebut dihasilkan oleh bagian luar atau korteks kelenjar adrenalin. Di bagian medula atau bagian dalam kelenjar adrenalin, dihasilkan hormon epinefrin atau yang dikenal dengan nama lain, adrenalin.
Kelenjar kelamin atau gonad mempunyai sifat endokrinik karena menghasilkan hormon, namun sekaligus bersifat sitogenik karena menghasilkan sel kelamin. Pada wanita hormon yang utama dihasilkan adalah estrogen dan prostogen. Kedua hormon tersebut mempunyai fungsi untuk penebalan dinding uterus dalam kaitannya dengan penyiapan penerimaan telur yang sudah masak dan siap untuk dibuahi. Perbaikan dinding uterus karena proses menstruasi juga dipengaruhi oleh hormon tersebut. Hormon estrogen mempunyai peranan dalam penampakan ciri-ciri wanita, seperti bertambahnya tumpukan lemak di daerah dada, pantat, dan paha, serta suara yang terkesan lembut dan mempunyai nada tinggi.
Pada pria hormon yang dihasilkan adalah testosteron yang diproduksi di testis atau buah zakar. Hormon ini berperan dalam menampakkan ciri pria, seperti berjanggut, dan pertumbuhan otot serta perkembangan tali suara sehingga suara menjadi keras dan kasar.
Kelainan pada kelenjar adrenal adalah peristiwa yang disebut virilisme, yaitu timbulnya ciri kelamin sekunder pria pada wanita. Ini terjadi pada hipersekresi. Juga penyimpangan Coushing syndrome, yang terjadi karena hiperfungsi atau hipersekresi kelenjar adrenal bagian korteks yang mengakibatkan membulatnya muka menyerupai bulan. Hal ini berkaitan dengan redistribusi lemak. Hipofungsi kelenjar adrenal menyebabkan terjadinya penyakit Addison, sehingga menyebabkan pigmentasi kulit berlebihan. Gangguan pada kelenjar gonad adalah gangguan pada menstruasi dan tumbuhnya tumor.
4) Kelenjar Pankreas
Hormon yang dihasilkan kelenjar ini adalah hormon insulin, yang memegang peranan dalam menurunkan kadar gula darah. Proses ini sekaligus diikuti penimbunan glikogen di hati.
Hiposekresi hormon ini akan menyebabkan kelainan yang disebut kencing manis (diabetes mellitus) yang ditandai dengan naiknya kadar gula darah. Akibatnya sebagian gula akan dibuang melalui urine. Penderita mengalami kekurangan glukosa sehingga lemas, dan banyak minum karena pada penderita pembuangan air kencing banyak. Energi menjadi kurang sehingga penderita merasa selalu lapar, dan akibatnya nafsu makannya bertambah.
Kemungkinan dapat terjadi bahwa sebagai pengganti glukosa, protein dan lemak tubuh dirombak menjadi glukosa. Namun pencernaan lemak yang cepat ini mengakibatkan terjadinya senyawa keton yang bersifat racun. Terkumpulnya keton dalam darah menyebabkan asidosis atau keasaman darah meningkat. Keadaan ini bersifat fatal bila penyakit tersebut menjadi kronis. Komplikasi penyakit diabetes adalah gangguan pada jantung, dan ginjal, sehingga bila perawatan tidak memadai dapat mengakibatkan kematian. Dengan pengobatan yang teratur, penderita dapat hidup normal, berumur panjang seerti layaknya bukan penderita diabetes.
5. Hormon Estrogen dan Progesteron dalam Teknologi KB
Usaha menjarangkan kelahiran yang di negara kita termasuk dalam gerakan Keluarga Berancana (KB), dilakukan dengan bermacam-macam teknik. Dengan kata lain usaha ini sudah diteknologikan.
Berikut ini cara-cara yang dikenal untuk menjarangkan kelahiran.
a. Cara mekanik
Cara ini adalah usaha mencegah bertemunya sperma dengan sel telur, antara lain dengan mencegah masuknya sperma dalam uterus. Cara yang sangat dikenal adalah penggunaan kondom pada pria, dan diafragma pada wanita yang pada prinsipnya untuk menutup lubang leher rahim. Di negara kita penggunaan diafragma ini kurang dikenal dibanding dengan penggunaan IUD (ultra uterine device), seperti spiral.
b. Cara sterilisasi
Cara ini dilakukan dengan memotong saluran tuba pada wanita, atau mengikatnya dengan harapan pada suatu waktu dapat dilepas sehingga dapat menyalurkan sel telur yang sudah masak ke uterus untuk dibuahi. Upaya ini dikenal sebagai tubektomi. Pada pria juga dilakukan pengikatan atau pemotongan saluran yang menyalurkan sperma dari testis. Saluran tersebut dikenal dengan nama vas diferens.
c. Cara kimiawi dan hormon
Pada prinsipnya cara ini adalah cara untuk mematikan sperma, sehingga yang digunakan adalah spermatisida. Spermatisida ini dapat dicampur dengan zat yang dikenal dengan nama jeli, karena kekentalannya seperti jeli yang dipakai untuk mengoles roti. Ada pula yang diwujudkan dalam bentuk krim atau busa.
Cara lain yang digunakan adalah dengan memanipulasi kerja hormon. Dalam hal ini digunakan hormon sintetik progestin dan estrogen yang diwujudkan dalam bentuk pil. Adanya hormon sintetik ini mengakibatkan terjadinya proses penebalan dinding uterus dan juga penekanan pada hipofisis sehingga sekresi leteinizing hormon (LH) dan follicle stimulating hormon (FSH) berkurang. Hal ini bila terus terjadi, dapat mengakibatkan tidak terjadinya ovulasi atau pemasakan sel telur, sehingga tidak mungkin terjadi fertilisasi.
Bila yang bersangkutan ingin lagi mempunyai anak, maka penggunaan pil tersebut dapat dihentikan. Pemakai pil KB perlu menggunakan kombinasi estrogen dan progestin yang tepat, sebab ternyata hal ini bersifat individual. Efek samping yang terjadi adalah berupa hipertensi.
Selain diwujudkan dalam bentuk pil, hormon sintetik tersebut dapat pula diwujudkan dalam bentuk suntikan. Ada pula yang dimasukkan dalam kapsul yang selanjutnya ditempatkan di bawah kulit tangan, yang disebut dengan susuk KB.
6. Hubungan Hormon dan Saraf
Sistem saraf dan sistem endokrin keduanya tergolong dalam sistem koordinasi. Semua sistem koordinasi berkaitan dengan proses penyampaian informasi. Selain penyaluran informasi pada sinapsis, seperti yang telah diuraikan dalam bentuk sinapsis listrik, (yaitu yang menyangkut penyaluran informasi melalui saraf karena adanya perubahan muatan listrik sewaktu terjadi impuls), ada dua penyaluran informasi melalui zat kimia, yang disebut neurotransmitter.
Penyaluran informasi melalui saraf ternyata lebih cepat dibanding dengan penyaluran informasi melalui sistem endokrin, karena hormon yang dihasilkan dan berperan dalam informasi tersebut harus masuk ke peredaran darah. Dengan demikian, sasaran penyaluran informasi melalui saraf adalah pasti, sedang saluran informasi melalui sistem endokrin tidak demikian. Mengapa? Namun demikian, informasi yang dibawa oleh sistem saraf adalah terlalu umum, yaitu semuanya diterjemahkan dalam bentuk muatan positif dan negatif, sedangkan informasi melalui hormon juga tertentu sesuai dengan sifat zat, karena hormon adalah zat kimia. Suatu hubungan yang unik antara kelenjar hormon dan sistem saraf adalah hipofisis yang dikenal sebagai “the master gland” karena mempengaruhi banyak kelenjar endokrin, ternyata sifatnya tidak otonom. Kerjanya dipengaruhi oleh hipotalamus. Sebagai contoh adalah orang yang lari ketakutan dan mempunyai energi yang luar biasa, disebabkan oleh kerja hormon adrenalin, tetapi hormon ini baru bekerja setelah ada stimulus dari saraf. Perlu diketahui bahwa keputusan untuk lari atau melawan dipengaruhi oleh pertimbangan sadar tentang kekuatan lawan dan sekaligus kekuatan diri sendiri.
Hal yang menunjukkan adanya kerjasama sistem endokrin dengan sistem saraf adalah keadaan yang menyebabkan seseorang dalam situasi gawat karena mengalami dehidrasi atau kehilangan air. Keadaan ini dilacak oleh saraf tertentu di hipotalamus, yang selanjutnya meneruskan ke kelenjar hipofisis yang kemudian menghasilkan hormon anti-diuretik, sehingga pembuangan cairan dalam bentuk urine terhenti.
C. Indera
Reseptor yang bertugas menerima rangsang disebut indera. Dahulu kita menyebut adanya lima indera, (pancaindera), yaitu indera-indera yang terdapat pada kulit (peraba), lidah, hidung, telinga dan mata. Setiap indera terdiri atas alat penerima rangsang dan urat saraf yang membawa dan memberitahukan rangsang tersebut ke pusat saraf. Indera hanya dapat bekerja sempurna apabila:
1. Tidak ada gangguan pada alat penerima rangsang.
2. Tidak ada gangguan pada urat saraf penghubung dan pusat saraf.
3. Tidak ada gangguan pada pusat saraf di otak.
Kita memiliki alat menerima rangsang dari luar (eksteroseptor), rangsang dari dalam (interoseptor), dan rangsang yang ada di dalam otot (proprioseptor).
1. Kinestesis
Kecuali panca indera, ada pula sejumlah “indera” yang terdapat pada otot, urat otot, jaringan ikat sendi, dan sendi. Indera tersebut dinamakan kenestesis. Kinestesis dapat membantu koordinasi sikap tubuh. Dengan adanya indera ini, kita dapat membuka baju dengan mata tertutup, mengikat tali sepatu.
2. Peraba
Indera peraba dan perasa disebut tangoreseptor dan terdapat pada kulit. Beberapa diantaranya merupakan ujung urat saraf yang bebas dan ada pula yang berkelompok, serta terselubung, yang disebut ujung saraf korpuskel, atau puting peraba. Indera peraba dan perasa tersebut di seluruh permukaan kulit, tetapi tidak sama banyak. Pada ujung jari terdapat amat banyak, demikian pula pada telapak tangan, telapak kaki, bibir dan alat kelamin. Rangsang yang dapat diterima, misalnya panas, dingin, kasar, dan halus. Indera peraba dan perasa terdapat pula di dalam alat-alat dalam tubuh, sehingga kita dapat merasa lapar, haus, rasa ingin kencing dan sebagainya.


3. Pengecap dan Pembau
Rangsang yang diterima lidah berupa rasa kecap, yang diterima hidung berupa bau, dan yang diterima oleh sel-sel kemosereptor, yakni apa yang terdapat di lapisan selaput lendir. Indera pengecap mampu menerima rangsang dari zat yang larut dan indera pembau menerima rangsang dari zat kimia yang menguap.
Indera pengecap terutama terdapat pada lidah dalam bentuk puting pengecap. Di samping itu, ada juga sedikit yang terdapat pada langit-langit lunak dan lengkung langit-langit. Bagian lidah yang mampu merasakan asin terdapat di bagian depan, rasa manis di bagian tepi, rasa asam di tepi bagian belakang, dan rasa pahit di bagian tengah belakang.
Indera pembau terdapat di hidung, yakni pada lapisan selaput lendir. Indera ini mamapu menerima rangsang berupa bau atau oflaksi oleh sel pembau. Sel pembau ini mempunyai ujung-ujung berupa rambut-rambut halus. Rambut-rambut ini dihubungkan oleh urat saraf melalui tulang saringan dan bersatu menjadi urat saraf olfaktori menuju pusat pencium bau di otak. Indera pembau membantu indera pengecap menaikkan selera makan. Bila seseorang terkena influenza, ia kurang mampu menerima rangsang bau dan kurang selera makannya.
4. Indera Pendengar dan Keseimbangan
Indera pendengar dan keseimbangan terdapat pada telinga dalam. Telinga terdiri atas tiga bagian, yaitu bagian luar, merupakan penangkap getaran bunyi, dan bagian tengah yang meneruskan ke bagian dalam.
Getaran suara yang ditangkap telinga bagian luar menggetarkan gendang telinga (membran timpani). Getaran ini, pada bagian tengah telinga diteruskan oleh tulang-tulang pendengar yang jumlahnya tiga buah, yaitu martil (maleus), landasan (inkus), dan sanggurdi (stapes). Oleh tulang-tulang tersebut, getaran diteruskan ke telinga bagian tengah, yang disebut labirin.
Labirin terdiri atas dua bagian, yaitu labirin tulang dan labirin selaput. Di dalam labirin tulang terdapat serambi (vestibulum), saluran tengah lingkaran (kanal semisirkularis) dan rumah siput (koklea). Di dalam koklea inilah terdapat alat pendengaran, yaitu di dalam alat korti.
Oleh tulang-tulang pendengar getaran disampaikan pada tingkap oval sehingga cairan limfa di dalam koklea dan selaput tingkat bulat ikut digetarkan. Alat korti mengandung fonoreseptor berupa sel-sel pendengar dan berbentuk selaput dasar yang mengandung rambut saraf pendengar dan selaput atas yang menerima getaran cairan limfa.
Rangsang getaran yang diterima ujung saraf pendengar diteruskan oleh saraf koklea ke otak. Di dalam koklea tersebut terdapat 24.000 alat korti, yang masing-masing mempunyai kepekaan menerima bilangan getar tertentu. Kita hanya dapat mendengar bunyi dari 20 – 20.000 Hertz dan ada orang tertentu mendengar dari 16 – 20.000 Hertz.
5. Indera Penglihatan
Mata manusia bekerja sebagai sebuah kamera sehingga sinar jatuh pada retina. Urat saraf penglihat masuk satu berkas ke dalam bola mata. Kemudian membelok dan menyebar ke retina. Di retina, yang terletak pada sumbu lensa mata, terdapat cekungan yang paling banyak mengandung ujung saraf mata sehingga merupakan tempat yang paling peka untuk menerima rangsang sinar, yang disebut bintik kuning. Sebaliknya di tempat masuk dan di tempat belokan, berkas saraf tidak memiliki ujung saraf penglihat, yang disebut bintik buta.
Pada retina ini terdapat ujung-ujung saraf penerima rangsang sinar (fotoreseptor). Sel-sel fotoreseptor ini ada dua macam, yaitu sel berbentuk batang (basilus) dan sel berbentuk kerucut (konus). Basilus mampu menerima rangsang tidak berwarna dan di retina kita ada sejumlah kurang lebih 125.000.000 rangsang. Konus mampu menerima rangsang sinar yang kuat dan yang berwarna, pada retina terdapat kurang lebih 6,5 juta buah konus.
Sel basilus mengandung pigmen atau disebut rodopsin, yaitu senyawa antara vitamin A dengan suatu protein. Bila terkena sinar terang, rodopsin itu terurai dan terbentuk kembali menjadi rodopsin pada keadaan gelap. Pembentukan kembali rodopsin ini memerlukan waktu, yang disebut waktu adaptasi rodopsin. Dalam waktu adaptasi ini kita kurang dapat melihat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

tinggalkan Pesan/komentar anda..!!